Monday, September 6, 2010

Ongkos Becak

Sudah beberapa hari ini saya pulang kerja ga bareng suami. Dari stasiun kereta menuju rumah, saya tempuh dengan angkot, setelah itu lanjut dengan naik becak, atau kalau udah kelewat malam (melewati pukul 19.00) biasanya naik ojek. Jarak dari turun angkot menuju rumah lumayanlah, sekitar 1 kilo. Sebenarnya sih saya lebih suka jalan kaki, selain karena merasa dekat (jalannya lurus, jadi dari jauh sudah nampak rumah saya!) juga ini kesempatan buat saya untuk olahraga jalan kaki setelah seharian di kantor tadi duduk terus depan komputer! (kecuali ada rapat di luar, baru saya beranjak dari meja kerja). Tapi seringkali niat untuk jalan kaki itu gugur dengan sendirinya! kenapa? karena begitu saya turun dari angkot, para abang becak (yang umumnya sudah saya kenal semua) langsung menyodorkan becanya menuju angkot yang berhenti. Alhasil saya yang tadinya berniat jalan, langsung naik becak.

Di dalam becak saya berpikir-pikir 'berapa ya ongkos naik becak sekarang?' sudah lama saya ga naik becak! dua tahun lalu saya naik becak bayarnya sekitar Rp3000,- itu pun dulu dari depan (pangkalan becak) sampai ke rumah ibu saya (rumah ibu letaknya agak jauh ke dalam komplek, dibanding rumah saya sekarang). Jadi kalau diitung-itung, mungkin ongkos dari pangkalan ke rumah saya ini sekitar Rp2500,-. Akhirnya pas turun saya tanya si abang berapa ongkosnya: dia jawab Rp3000,-. wow..ternyata setelah dua tahun berlalu, ongkos becak masih tetap sama ya? saya jadi membandingkan dengan ongkos angkot dan ongkos kendaraan umum lainnya. Ongkos mereka senantiasa berubah seiring dengan kenaikan biaya hidup, kenaikan gaji pegawai negeri dan kenaikan harga minyak dunia. Bahkan meskipun kenaikan gaji pegawai negeri baru sebatas gosip di surat kabar, mereka sudah duluan naik tarif! padahal kalo sudah naik, pantang turun lagi!

Saya maklum atas 'kestabilan' ongkos becak, mengingat becak tidak menggunakan bahan bakar seperti halnya angkot dan kendaraan umum lain! Selain itu, kalau angkot punya ORGANDA yang bisa menentukan besaran tarif, maka becak tidak punya perkumpulan/persatuan sebagai wadah aspirasi para abang becak guna memperjuangkan hak-haknya. Tidak heran jika kemudian ongkos becak ditentukan oleh seberapa berani kamu bernego dengan abang becak! how low can you go? . Terkait dengan nego ongkos ini, kadangkala kita suka tidak berperi'kebecaan' , masa jarak 5 kilo dihargai Rp10.000? apalagi kalo anda berkunjung ke daerah jawa tengah sana..ongkos becak lebih murah lagi! keliling-keliling sampe puas Rp10.000,-! Anda puas kami lemas , mungkin begitu pikir si abang becak.

Mereka memang tidak menggunakan bahan bakar apapun, karena mereka menggunakan tenaga manusia! Ongkos becak memang tidak dipengaruhi oleh kenaikan bahan bakar, tapi kenaikan bahan bakar tetap saja mempengaruhi biaya hidup mereka! Seandainya penghasilan dari becak hanya cukup untuk kebutuhan makan anak istri, maka si abang becak cuma dapat apa? capek doank! padahal tenaga mereka sebagai sumber utama! Untuk itu, lain waktu kalau kita harus menempuh perjalanan ke suatu tempat dengan naik becak, saat kita menawar harga, hendaknya sambil membayangkan kira-kira seberapa jauh si abang harus mengayuh becaknya. Tapi kalo seandainya kita sendiri belum tau pasti berapa jauh jarak menuju lokasi yang dituju, ya..setidaknya menawarlah dengan harga sewajarnya! Atau kalau pengen lebih murah, minta anda sendiri yang mengayuh becaknya!   xo



4 comments:

WONG SIKAMPUH said...

He...He...He...Lucu dan menarik serta mengandur pesan moral..Aq sangat setuju..inti dari artikel ini kt harus mampu menghormati dan menghargai pertolongan orang lain..Sebagai contoh nya cerita abang becak ini

Popi said...

ya..kadangkala kita kalu nawar suka seenak udel!

Ummu Abdillah Sri Muliana said...

senang banget nih para abang becak klo baca postingannya mbak..he..
salam kenal

Popi said...

salam kenal juga.... (hehe telat, dibalas ampe 7 tahun :D )

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...