Friday, July 22, 2011

Belajar Menerima Kesalahan

Entah kenapa, dua hari lalu suami kirimi saya cerita berhikmah ini via e-mail. Setelah membaca e-mail, saya jadi berpikir : ada 2 kemungkinan alasan suami kirim saya cerita ini: Pertama, mungkin selama ini saya kalo masak tempe suka gosong; Kedua, suami sedang mengingatkan saya kalo saya harus menerima kesalahan dia dan ga suka 'nyolot' :D ('kan inti ceritanya "Belajar Menerima Kesalahan"). Apapun maksud dan tujuannya, cerita ini berarti buat saya dan mungkin buat semua yang pernah baca.
Begini cerita lengkapnya :

Dua puluh tahun telah berlalu, namun masih terbayang jelas kenangan indah berikut; Suatu malam, mama yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam mama selesai menghidangkan makan malam papa yang sangat sederhana berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong !, saya melihat mama sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis.Kami menunggu dengan tegang apa reaksi papa yang pulang kerja, pasti sudah capek melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong. Luar biasa ! Papa dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan mama dengan tersenyum, dan bahkan berkata; " mama terima kasih!", dan papa terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah. Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar mama meminta maafkarena telor dan tempe yang gosong itu, dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang papa katakan:"Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong. "Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada papa, saya bertanya apakah papa benar-benar menyukai telur dan tempe gosong ?". Papa memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata "Anakku, mama sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek, Jadi sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun kok!"
Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya; "BELAJAR MENERIMA KESALAHAN ORANG LAIN, dan memilih untuk merayakannya !"

11 comments:

Lidya said...

suami yg pengertian ya.
mbak Alvin belum masuk PAUD kok umurnya baru 16 bulan, itu cuma ikut2 pascal aja sebelumTPA nya mulai. kalau pagi pascal sekolah TK B sorenya TPA

dunia kecil indi said...

thanks ya atas koreksinya. link'nya sudah aku perbaiki. ini dia: http://duniakecilindi.blogspot.com/2010/06/about-his-second-family.html
:)

mabrurisirampog said...

perkara yang tidak gampang memang menerima kesalahan orang lain, tpi sungguh akan berasa begitu nikmat jika bisa melakukannya...

Muhammad A Vip said...

maafkan aku yang selama ini selalu makan tempe gosong. dan akan kumaafkan engkau yang suka bikin makanan gosong. selamat menyambut ramadan.

kira said...

betul betul betul, mau puasa nih, maafin jg kesalahanku ya udah banyak salah. :)

Burhanuddin Ojo said...

sungguh super....

karodalnet said...

wah suami yang luar biasa mbak, kalu punya suami seperti ini, aku yakin mbak pasti sangat bahagia sekali bersamanya.

salam kenal ya mbak :)

Popi said...

@Lidya: pasti dia seneng ya temenin kakaknya?
@Indi: udah kubaca tuh ;P
@Avip: hihi...
@kira: sama2
@Ojo: kamu gitu ga Jo?
@Karo: gitu ya? :)

Muhammad A Vip said...

belajar terus. praktekan langsung, ntar keburu puasa.

dunia kecil indi said...

setuju! lagipula kumpulan kesalahan itu kan artinya pengalaman. salah memang menyakiti pada awalnya, tapi kalau besok pagi kita masih bangun, bernafas, itu tandanya Tuhan masih kasih kesempatan buat perbaiki kesalahan kita sebelumnya :)

Elsa said...

subhanallah
terima kasih pelajarannya Mbak...
aku tersentuh sekali... beneran nih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...