Monday, July 29, 2013

Jadikan Kami Hafidz Qur'an

Seorang anak usia 3 tahunan (seusia putriku Jasmine) dengan gaya lucu khas anak2 mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari satu surat yang lumayan panjang dengan suara lantang dan lancar. Saat itu, mungkin hampir semua yang menyaksikan  dibikin melongo, kagum dan terheran-heran. Kok bisa anak seusia itu hafal surat sepanjang itu?
Yang makin membuat saya kagum, ternyata tidak cuma satu surat dia hafal. Sepertinya semua surat di Juz 30 dia hafal. Hal ini terbukti pada saat sesi sambung ayat (salah satu juri membacakan ayat secara acak kemudian si anak kecil tadi harus meneruskan ayat berikutnya), bocah lucu itu dengan tenangnya bisa meneruskan ayat-ayat selanjutnya sampai tuntas. Luar biasa! 
Semua orang di studio sebuah stasiun TV swasta tersebut menatap si anak dengan perasaan kagum dan mata berkaca2. Termasuk saya. Kemudian salah satu juri berkomentar "saya masih penasaran, bagaimana cara Bundanya mengajarkan Adi menghafal sebanyak itu?". Kamera pun menyorot sang Bunda, lalu Ayah si anak itu. Saya bisa merasakan betapa bangganya kedua orang tua itu karena putra kecilnya bisa menghafalkan Al-Quran di usia dini. Seandainya mereka adalah saya. Dan anak itu adalah anakku.

Acara itu saya tonton tanpa sengaja pada saat Sahur. Sebuah acara yang terasa beda dengan acara-acara sahur di stasiun lainnya yang menampilkan dagelan tak tepat waktu. 
Acara di stasiun TV itu menampilkan anak-anak rata2 berusia di bawah 12 tahun berlomba hapalan Al-Qur'an. Sebuah kompetisi yang sepertinya jarang ditampilkan sebuah TV. Kebanyakan stasiun TV hanya mengadakan lomba nyanyi, nari, lawak, modeling dan sejenisnya. Tentunya karena lomba2 seperti itu lebih banyak peminat, banyak penonton dan banyak pula iklan yang jadi sponsor. Pemenang dari ajang lomba tersebut dijamin menjadi Top sesudahnya. Setidaknya jadi bintang iklan Sozzis. 

Sebagai orang tua, saya seringkali menyuruh anak saya agar tekun belajar supaya jadi juara. Mendorong mereka supaya giat berlatih beladiri, belajar bahasa asing supaya fasih, mengasah bakat bermain musik dsb. Tapi rupanya saya lupa mendorong mereka untuk giat menghafal Al-Qur'an. 
Mereka memang ikut TPA di dekat rumah. Tapi itu hanya sebatas belajar membaca, dan bukan dilatih intensif hapalan Al-Qur'an.

Jujur saja, saya sendiri hanya hafal beberapa surat, itu pun surat pendek dan yang sering dilafalkan orang2 pada umumnya saat shalat. Dan saya rasa bacaan tajwid saya pun belum betul panjang-pendeknya. 
Kesadaran membaca dengan benar dan menghafal Al-Quran baru terasa setelah menonton acara tadi. Masyaallah..kemana saja saya setelah beberapa puluh tahun berlalu? kenapa baru sadar sekarang? masa saya kalah sama anak usia 3 tahun?

Padahal kalo kita cermati, Al-Quran itu dari masa Rosul sampai sekarang ga berubah, ya itu-itu saja. Artinya, secara logika harusnya setiap orang bisa menghafalnya dengan mudah. 
Al-Qur'an tidak seperti buku sejarah atau buku-buku pelajaran sekolah yang sering berubah2 setiap tahun ajaran baru, hingga bikin bingung orangtua (karena harus selalu membeli baru) dan juga bikin bingung si anak karena beda2 versi pengajaran.
Tapi kenapa kitab yang konsisten dengan isinya itu malah dinomor duakan (atau malah nomor kesekian) untuk dibaca dan dihafal? Satu pertanyaan yang harus dijawab oleh kita sebagai orang yang mengaku muslim.

Rasa miris saya atas kurangnya kemampuan hafalan Al-Qur'an pada anak-anak semakin terasa pada saat buka bersama keluarga besar kami kemarin. 
Seperti biasa, sesaat sebelum Adzan magrib, salah seorang kakak ipar melempar kuis. Kuis-nya biasanya masing2 anak diminta melafalkan salah satu doa atau surat yang dia hafal. Demikian pula saat buka bersama kemarin.
Seperti yang kuduga, ternyata doa dan surat yang anak-anak baca tidak jauh berbeda dengan yang tahun kemarin. Hanya doa pendek dan surat-surat pendek yang umum dibaca. Berarti dalam setahun ini tidak ada anak-anak kami yang menambah hafalan Al-Qur'an?
Untungnya, diantara kesedihan itu, ada sedikit angin sejuk. Yasser melafalkan satu surat agak panjang, meski dengan terbata2 dan harus mengulang beberapa kali karena lupa.
Cuma yang bikin miris, saat ada satu ayat yang dia lupa, tak seorangpun dari kami yang bisa membantunya (karena tidak ada yang hafal), termasuk saya ibunya (Tamparan telak buat saya). Padahal saat itu sepertinya Yasser berharap ada seseorang mengingatkan dia- setidaknya memberi clue apa ayat selanjutnya.
Namun Alhamdulillah, meski tanpa ada yang membantunya, dia bisa mengingat kembali ayat yang dia lupa dan akhirnya bisa menuntaskan bacaan surat tersebut sampai akhir.
Semua tepuk tangan. Lega. Utamanya saya.

Bagian yang memalukan bagi saya, saat para sepupunya yang kebetulan duduk disebelah saya bertanya "Ci, emang itu surat apa yang dibaca Yasser?"...."hm...surat apa ya? Aci juga ga tau nama suratnya!" jawab saya dengan perasaan malu luar biasa (Tamparan kedua buat saya).

Sejak saat itu dan supaya tidak mendapat tamparan ketiga kali, saya berniat mengajak anak-anak untuk menghafal Al-Qur'an sejak dini. Jangan sampe mereka mengulang kesalahan seperti ibunya. 
Masa kontrak hidup saya di dunia tinggal beberapa puluh tahun lagi (kalo panjang umur), tapi hafalan Qur'an masih sedikit. Betapa meruginya saya, karena berapa puluh tahun telah terbuang percuma tanpa hafalan.

Ayo anak-anakku, kita mulai menghafal Al-Qur'an!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...