Tuesday, November 30, 2010

Hukuman Massa

Mendengar kata 'hukuman massa', maka yang terbersit dalam pikiran adalah ditonjok, dipentung, digebuk pake kayu, atau ditendang sepatu boot. Semua itu sampe babak belur ga berbentuk, dan ini yang paling ekstrem : dibakar! hii..

Kenapa sekarang masyarakat begitu membabi buta dalam menghakimi seseorang meski saat itu belum jelas apakah orang tersebut benar2 salah atau tidak? sepertinya masyarakat kita sudah dalam taraf 'emotional warning'! rasa kesal, sebal, marah terhadap sesuatu/peristiwa (biasanya kesal terhadap sistem) yang terakumulasi sekian lama, dapat dilampiaskan seketika (tanpa rencana) manakala ada pemicu yang mendadak muncul di depan mata. Misalnya: kesal karena kereta mogok terus, pelayanan primitif dan tarif mahal, maka saat di stasiun ada kondektur atau petugas KAI yang bertingkah dan memancing kemarahan seorang penumpang..serentak penumpang lain yang ada di gerbong kereta atau di stasiun menyoraki, meneriaki, dan memaki-maki si kondektur/petugas tadi! ...huuuhhhh.....bakar! bakar!... (saya ga ikutan loh!! :D )

Kejadian pagi ini yang saya alami juga merupakan bentuk hukuman massa tahap ringan. Pagi tadi saya beli bubur ayam depan kantor. Tiba-tiba seorang pengendara motor bertengkar mulut dengan seorang pejalan kaki (sepertinya ini cleaning service /CS di kantor kami). Ga tau kenapa dan sepertinya semua orang disitu pun ga 'ngeh' gimana awalnya (maklum saat itu jalanan lagi traffic! berisik pula). Yang jelas kami baru memperhatikan karena si pengendara motor nampak emosional dan bentak2 tuh CS, sementara si CS cuma berkata pelan dan agak takut-takut kucing!. Dan ini yang terjadi: melihat si CS nampak ketakutan di bentak-bentak si pengendara motor, orang-orang disitu (kebanyakan tukang dagang, tukang ojek mangkal dan orang2 yang lagi bengong nunggu angkot) langsung menyoraki si pengendara motor. Bahkan salah seorang pedagang nyaris mendekati si pengendara motor sambil mengusir. Demi mendengar teriakan/sorakan massa sekitar, si pengendara pun langsung ngacir pergi. O'ya..selintas tadi saya sempat mendengar salah seorang (entah pedagang atau tukang ojek) teriak : gebug aja gebug! untungnya ga ada yang tergerak untuk main gebug! (padahal saya siap2 mo ikutan! :O ). Dan jujur saja, saat itu karena melihat tingkah si pengendara yang memaki-maki si CS, saya agak kesulut juga untuk ikut menyoraki! Bagusnya karena ngerasa ga tau jelas duduk perkaranya, saya urungkan niat busuk itu. Sapa tau emang tuh CS yang salah (mungkin dia jalan meleng jadi ngalangin si pengendara motor, jadi hampir ketabrak motor).

Berusaha untuk tidak serta merta menghakimi seseorang, juga didasarkan atas pengalaman pribadi. Suami saya pernah berurusan dengan pengendara motor -seorang mahasiswi. Pas mobil suami mo belok kanan, tiba2 tu motor yg distel ngebut berniat nyalip seenaknya ke samping mobil, tapi karena mobil suami keburu mo belok, jadinya dia ngerem mendadak. Walhasil, terpentalah cewek tersebut menggelosor masuk kolong mobil! Untungnya mobil suami langsung berhenti saat motor mahasiswi itu mencium pantat mobil! Tu' mahasiswi cuma baret-baret di tangan dan kaki. Kemudian dia langsung telpon teman-temannya. Kejadian selanjutnya ini yang bikin suami kesel: saat teman-temannya datang, mereka (yang ga tau jelas kronologi peristiwa) langsung nunjuk2 suami saya dan minta ke orang-orang sekitar situ (salah satunya Satpam Apotek) agar menahan suami saya sambil bilang "tolong tahan orang ini Pak, dia udah nabrak teman saya!". Lah...miswa yang merasa ga nabrak jelas kesal donk? emang dia apaan pake ditahan? malah sebenarnya mobil suami saya yang ditabrak tu cewek dari samping ( buktinya bemper samping belakang mobil agak sompak). Orang-orang disekitar situ, yang lihat ada keributan langsung merubungi TKP...ada apa ini-ada apa ini? semua mata tertuju pada suami dengan pandangan seolah-olah: KAMU yang SAlah ya? Sementara itu, si Satpam yang diminta mereka untuk menahan suami saya -untungnya- cuma diam saja! mungkin karena dia merasa ga punya wewenang dan dia sendiri tau kejadian yang sebenarnya karena dari tadi dia ikut menyaksikan.

Saya yang datang ke lokasi setelah kejadian, mendengar cerita suami cuma bisa bersyukur. Untung saat itu massa tidak terprovokasi dengan himbauan para mahasiswa tadi! Coba, satu orang saja bilang 'pukul'! maka yang lain tanpa ba-bi-bu bisa saja main pukul! Penah dengarkan korban 'pencopetan' di kereta yang di lempar dari kereta? ini gara-gara si pencopet dan gerombolannya balik menuduh si korban sebagai 'pencopet'. Penumpang kereta lainnya yang gemas karena seringnya pencopet berkeliaran di kereta, bagaikan tersulut api segera menumpahkan amarahnya ke si korban! Mereka tidak tau bahwa yang mereka aniaya sebenarnya juga 'korban'. Seringkali korban tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Lalu harus bagaimana coba kalau saya jadi si korban? moga-moga jangan sampe deh!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...