Monday, August 8, 2011

Belajar Dari Kematian

Judul posting kali ini agak nyeremin ya? saya cuma ingin sekedar sharing. Sepertinya bulan Ramadhan gini saat yang tepat untuk merenung. Kebetulan beberapa tahun terakhir saya dikelilingi oleh berita kematian orang-orang terdekat. Dimulai dari kematian kakak tertua, disusul 3 bulan kemudian suaminya. Terus minggu lalu rekan kantor, disusul kemudian Jumat lalu Sodara ipar kakak saya. Kematian memang hal yang biasa, tiada hari tanpa kematian. Namun demikian, tetap saja jika itu menimpa orang terdekat disekitar kita, hal biasa itu menjadi ‘luar biasa’. Rasa sedih, kaget, merasa kehilangan luar biasa pasti ada. Apalagi bila kematian itu datangnya tiba-tiba. Dalam arti, orang yang tadinya sehat-sehat saja tiba-tiba meninggal. Entah itu karena serangan jantung mendadak atau kecelakaan. 

Saat kakak tertua saya meninggal, kami semua sedih tapi kami jauh-jauh hari sudah siap dengan kemungkinan itu, karena kakak saya memang sudah hampir 3 tahun sakit dan sebagian waktunya dalam kondisi tak sadar. Namun, saat suaminya meninggal tiga bulan kemudian karena serangan jantung, kami benar-benar kaget dan luar biasa merasa kehilangan. Tak percaya beliau meninggal. Rasanya baru kemarin beliau datang ke rumahku sambil senyum-senyum seperti biasa. Demikian pula saat sodara ipar kakak meninggal Jumat lalu. Kami semua tak percaya, terutama kakakku dan suaminya. Rasanya baru seminggu lalu dia hadir di rumah ikut pengajian, terus bersenda gurau seperti biasa. Mendadak Jumat sore meninggal karena kecelakaan mobil di jalan tol sepulang dari tempat kerja.

Dari semua kejadian itu, saya sadar : ternyata begitu tipis batas antara kehidupan dan kematian. Jika pagi kamu sehat, mana tau nanti sore jatuh sakit? Bila detik ini kita dan rekan-rekan bisa tertawa-tawa dan bercanda, siapa yang tau sedetik kemudian kita larut dalam tangis duka karena kehilangan salah satu dari kita?  

Ada 2 hal yang bisa dipetik pelajaran dari kematian : PERTAMA  Jangan menunda untuk berbuat baik pada orang. Poin ini berdasarkan pengalaman kakakku. Saat suami kakak tertuaku meninggal mendadak, diantara kami, dia yang paling sedih dan sering nangis. Dia bilang, dia menyesal karena sudah bersikap ketus dan judes pada almahrum pada saat-saat terakhir sebelum meninggal. Katanya, almarhum –entah kenapa – jadi rajin sambangi kantornya sekedar untuk bertegur sapa atau ngajak makan siang (mereka satu kantor) dan saat itu ditanggapi kakakku dengan ketus. Kalo saja dia tau beliau bakal meninggal, tentunya dia akan bersikap ramah pada almarhum! Penyesalan memang selalu datang kemudian. KEDUA  Segerakan beribadah. Jika ada yang bilang bahwa beribadah itu digiatkan saat usia tua, sedangkan usia muda saatnya senang-senang, sungguh salah! Apakah kita yakin bahwa kematian akan datang saat tua? Kematian bisa datang kapan saja. Bahkan bayi baru lahir pun bisa mati. Jika kita menunda-nunda  untuk sholat dan lebih memilih untuk bereskan dulu kerjaan, apakah yakin bakal selesai? Bagaimana bila mendadak kita kesetrum kabel computer saat ngerjain tugas kemudian langsung goodbye?. Mengenai nunda-nunda waktu sholat ini, jujur saya masih sering melakukannya. Terutama saat pulang kerja. Di mobil, kami dengar suara azan magrib dan bulan Ramadhan gini pas adzan kami tentu segerakan buka puasa. Tapi sholatnya? Kami memilih nanti sholat bila sudah sampai rumah! Bayangkan, jika ternyata Tuhan menggariskan bahwa mobil kami tidak pernah sampai ke rumah? Sungguh kami akan menyesal sampai mati! Mungkin kami hanya bisa meratapi dan bila Tuhan mengizinkan, kami mohon agar waktu bisa diputar ulang...

Lalu, apakah kematian itu menakutkan? Bagi saya – YA- karena saya belum siap. Ibadah saya masih bolong-bolong dan saya masih suka berbuat jahat pada orang. Tapi siapa yang bisa menghindar dari kematian? Sekalipun kita sudah sedemikian hati-hati dalam beraktifitas guna menghindari kematian, dia tetap akan datang juga.

Tentang Mati, ingatlah selalu pesan Nabi : Jangan takut mati karena pasti terjadi. Semua insan pasti mati, hanya soal waktu! Sekarang, besok, lusa atau yang akan datang. Maka persiapkan diri anda sebaik-baiknya. Segeralah, jangan ditunda!

13 comments:

Lidya said...

hiks kadang suka menunda juga nih.moga2 bisa lebih baik lagi kedepannya dengan ada pengingat seperti ini

mabrurisirampog said...

jangan takut mati, tapi jangan mengharap mati...

serem bu postingannya, tpi bagus ding buat perenungan. orang yg baik kan yang selalu ingat akan kematian, tujuannya agar lebih giat lagi dalam beribadah kepadaNya dan mempersiapkan sebaik2nya jika massanya itu kan datang..

joanna said...

ngeri atau ngga..kalau saya tetep ngeri nih bacanya..diingatkan tentang kematian..duhh lom siap :(
tapi betul kata mbak, segeralah mempersiapkan diri, jgn tunda2 lagi..
semoga kita smua siap kapan pun dipanggil oleh Yang Kuasa yaa..

Mukti Effendi said...

hmmm motivasi yang luar biasa memberikan kekuatan untuk selalu berbuat baik. thanks artikelnya. ditunggu artikel2 yang lain gan

Ami said...

memang perlu belajar terus memperbaiki diri... aku juga gitu...

bopfive5 said...

ya kt harus siap dengan kematian tp aku masih takut untuk mati ,krn merasa belum cukup amalan ini

Popi said...

@Lidya: sama Mbak! :(
@Mabrui: bener..
@Joanna: amiin
@Mukti: sama2
@Ami: bagus
@bopfive5: sama

bopfive5 said...

yg jelas banyk dosa he3..

r10 said...

saya juga masih belajar sholat tepat waktu

Muhammad A Vip said...

di jakarta kematian mengikuti dekat di punggung kita. jangan ditengok ya...

Anonymous said...

Salam kenal, postingannya bagus bgt. Terkadang manusia suka plin-plan.terkadang rajin beribadah n terkadangg suka malez alias molor-molor.bener nih, jika qt sll teringat ttng kematian,pastilah qt sll rajin ibadah n sll berbuat baik pd org lain.

Elsa said...

Ya Alloooh
awalnya si istri meninggal, lalu suaminya...
duh, kok dekat banget gitu waktunya ya
pasti lah shock....

butuh waktu lama untuk sembuh dari duka ditinggal pergi saudara kita ya Mbak

Popi said...

@bopfive: sama
@r10:keep on!
@A vip: jangan dilirik malah!
@Rosa: betul!
@Elsa: :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...