Monday, June 25, 2012

Suatu Pagi di Kereta...

Kamis pagi, saya sengaja naik kereta jam 06.15. Kereta jam segini lumayan longgar dan saya bisa leluasa milih duduk di gerbong khusus wanita terdepan. Dan kereta pun melaju dengan menyisakan space yang lumayan buat orang2 berdiri dengan nyaman.
Sampai stasiun Cilebut, masuklah seorang ibu dengan menggendong balita, yang diikuti oleh sepasang orang tua (suami-istri) tuna netra. 
Tanpa dikomando, hampir semua penumpang kereta di gerbongku (termasuk aku) menatap kearah 'rombongan kecil' itu. Sepertinya hampir semua orang berpikir sama tentang 'rombongan kecil' itu.
Sambil mengobrol, mereka bergerak ke arah courtesy seat di pojokan. Saya pikir, ah...pasti mereka mau duduk disana, mengingat kursi itu memang salah duanya dikhususkan buat ibu membawa balita dan lansia ('rombongan kecil' itu memenuhi syarat, bukan?). 
Namun, setelah kuperhatikan, ternyata sampai di tempat tujuan, tidak ada satupun diantara penumpang yang telah duduk di courtesy seat mempersilahkan rombongan kecil itu duduk. Walhasil kulihat, Ibu dan balita -berdiri menyender ke pintu, sementara sepasang orangtua tuna netra itu -duduk ngampar samping kursi khusus itu. What's the hell with people?
Saya, yang duduk jauh dari kursi khusus itu (tempat duduk saya berada di bangku panjang dekat ruang masinis) cuma bisa menatap nanar dan menunggu menit demi menit, apakah mereka akan memperoleh hak-nya untuk duduk si courtesy seat?. Kemana pula 'petugas' yang biasanya full service mencarikan kursi buat orang2 spesial? mendadak pagi itu tak nampak batang hidungnya. Atau mungkin ada, cuma pura2 ga tau?
Sampai beberapa stasiun berlalu, tak ada yang peduli dengan rombongan kecil itu. Dua orang wanita -yang kebetulan mereka berdiri di seberangku -  cuma bisa menggerutu ...'kok disana ga ada yang kasih mereka duduk sih?
Hingga kereta pun penuh dengan penumpang2 yang baru naik di stasiun berikutnya, dan saya pun ga bisa lagi melihat dengan jelas, apakah 'rombongan kecil' itu masih berdiri dan ngampar di lantai.

Sebenarnya kejadian seperti itu bukan yang pertama buatku. Dulu, semasa Kereta Pakuan masih eksis. Saya pernah melihat perlakuan 'diskriminasi' seperti itu. Saat pulang kantor, seorang ibu bersama 3 anaknya yang balita, ngampar di lantai tepat didepan courtesy seat- yang sialnya diduduki oleh beberapa pria muda pegawai sebuah instansi. Ibu dan balita itu, saya kenal betul, kadang - suka berjualan di stasiun Juanda, kadang pula si balita meminta2. Namun kali ini, kulihat sang ibu menyodorkan tiket kepada petugas karcis, it means mereka punya hak sama dengan penumpang lainnya bukan?
Sayangnya, dari Stasiun Juanda sampai stasiun Bojong, selamat! tak ada satupun yang mempersilahkan sang ibu dan balitanya duduk di bangku khusus.

Satu pelajaran yang kudapat di kereta: Ternyata masyarakat kita masih memandang seseorang dari penampilan!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...