Thursday, July 12, 2012

Reuni

 
image diambil dari  file windows
Sore menjelang magrib, hujan baru saja reda. Saya naik sebuah angkutan kota menuju rumah dari stasiun Cilebut. Tak lama kemudian mobil yang saya tumpangi berhenti, naiklah dua orang wanita muda cantik dan seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahunan. Suasana dalam mobil yang tadinya sepi oleh karena hampir semua penumpang capek dan mengantuk, mendadak jadi sedikit rame oleh celotehan dua wanita muda itu. Saya, yang tadinya terkantuk2, mendadak segar. Selain segar karena wangi parfum kedua wanita muda itu, juga karena isi obrolannya yang menarik.
Intinya, mereka sepertinya akan menghadiri suatu reuni. Entah reuni SD, SMP atau SMA....tak penting! Yang menarik, saat saya mendengar  nada 'khawatir' dari salah seorang wanita itu yang membawa anak kecil. Rupanya anak lelaki kecil itu anaknya!
Dia beberapa kali bertanya dan minta kepastian dari wanita satu lagi, apakah  boleh dia datang ke acara itu bawa anak? apakah gak malu? mengingat -menurut dugaannya- cuma dia doank yang udah punya anak.Wanita muda satu lagi tidak memberi jawaban, dari nada suaranya sepertinya dia juga agak keberatan rekannya membawa 'buntut' ke acara. Di akhir percakapan -sebelum mereka turun dari angkot- si wanita bawa anak sempat bergumam lirih "kayaknya aku ga jadi ikut ah! ga enak bawa buntut!"

Sepintas kulirik anak lelaki yang duduk dipangkuan wanita muda itu. Anak lelaki itu berdandan rapi. Rambutnya disisir ke samping. Wajah mungilnya tidak bisa menyembunyikan kegantengannya di masa depan. Saya mengerutkan dahi, heran. Ingin sekali saat itu saya ikut nimbrung dan nyeletuk:  Mbak, anakmu cakep dan lucu! Berbanggalah mbak memilikinya! Dan kalo pun ga ganteng dan ga lucu, Mbak tetap harus bangga, karena mbak punya 'anak'. Bisa jadi diantara teman2 mbak di tempat reuni-an sana ada beberapa yang belum dianugerahi seorang anak. Atau bahkan mungkin belum diberi kesempatan untuk membangun suatu keluarga? pada akhirnya mereka malah iri dengan 'keberuntungan' mbak.

Reuni, kadang menyenangkan -kadang tidak meng'enak'an. Utamanya jika reuni jadi ajang pamer 'kesuksesan', 'kekayaan' dst. Saya sendiri ga peduli dengan itu semua dan sama sekali ga terpengaruh dan jadi 'iri' terhadap rekan2 lama saya. Saya ikut bangga dan senang kalo mereka bisa jadi 'orang besar'.
Tapi yang bikin saya malas dengan reuni adalah apabila ada aturan yang 'melarang' kita untuk membawa pasangan, buntut, dkk. Intinya kita harus datang 'alone'. Supaya saat reuni, kita bisa seolah2 kayak dulu lagi (tentunya muka dan body, tetap ga bisa bohong bukan? hehe..). Itulah kenapa sudah 2x reuni SMA saya absen. Karena ketentuan itu tadi!
Bagi saya, reuni bagusnya juga menghadirkan 'anggota baru' di sekitar kita. Bukankah mengenalkan keluarga kita sama dengan memperluas silaturahmi? temanku, temanmu juga. Kalo ketentuan tadi untuk menjaga 'perasaan' rekan kita yang -mana tau belum berkeluarga- mungkin bisa diterima. Tapi sayangnya tidak demikian umumnya! Lebih banyak karena alasan 'kalo bawa pasangan/keluarga' bakal ga bebas. 

Kebebasan itu sudah masa lalu, saat masih sendiri. Sekarang adalah kehidupan yang baru. Dimana ada suami/istri dan mungkin anak2. Bagaimana mungkin kita bisa bebas seharian reuni, sementara istri/suami dan anak2 di rumah menanti dengan harap2 cemas? jangan2 si ibu/bapak bernostalgia dengan 'teman akrab' lamanya?

Saya bukan anti reuni. Tapi saya hanya mau reuni kalo dibolehkan membawa keluarga. Setidaknya anak, sebagai 'identitas baru' kita.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...