Friday, December 7, 2012

Suatu Hari di Kaki Gunung Pangrango

Mendaki gunung, menuruni lembah dan menerobos hutan belantara...adalah mimpi2 saya di masa muda dulu!
Sebagai seorang anak bungsu, boro2 menjalani ketiga kegiatan di atas, main ke tetangga di kompleks aja belum tentu lolos!
Padahal saya ini sebenarnya orang yang punya hasrat besar untuk berpetualang. Cuma seringkali hasrat itu cuma mentok dalam pikiran saja, tanpa bisa diwujudkan. Dan apabila akhirnya terwujudkan, maka luar biasa berkesan!

Hingga akhirnya, pada suatu hari di bulan November lalu, mimpi2 saya di masa muda dulu sedikit banyak terwujudkan. Meski tidak 100% sesuai dengan angan2 saya, tapi setidaknya beberapa langkah menuju kesana!
Kalo biasanya laut dengan pantainya yang indah tujuan utama liburan kami, maka kali ini kakak saya memberi ide brilian :   kaki Gunung Pangrango  - Sukabumi! 

Villa Cemara

Ini nama tempat kami berteduh, beristirahat dan makan bersama dengan suasana sekeliling murni alam ria! Letaknya tepat depan gerbang masuk Taman Nasional Gunung Pangrango. Dalam situsnya dikatakan bahwa Villa ini peninggalan Bung Karno! entah benar entah tidak. Saya mah ga peduli. Yang jelas menginap disini, kita bagaikan dilemparkan ke suatu masa, dimana si Laura di little house on the prairie bercanda bersama Mary kakaknya! (hm...ada yg tau film ini ga ya??).
Villa ini hampir seluruh bangunannya dari kayu (jati tentunya), kecuali kamar mandi yang jumlahnya ada 2. 
Kamar tidur ada 3 dengan masing2 berisi 2 ranjang bertingkat. Ruang tengah lumayan lega. Begitu pula dapurnya! Pendek kata, villa ini sangat nyaman untuk mereka yang datang rombongan (15 orangan-an lah!). Harganya? lumayan murah, apalagi kalo kita bisa sharing dengan yang lain! 


Danau Situgunung

Menuju danau atau Situ ini bisa ditempuh dengan 3 cara: jalan kaki, naik ojek atau naik mobil. Kami pilih jalan kaki. Sekalian olahraga dan menikmati keindahan alam. Jarak yang ditempuh sekitar 2 Kiloan. Lumayan pegal kaki! 
Oiya, sebenarnya saat masuk Taman Nasional kita dikenakan tiket -- kalo engga salah -- sekitar Rp5000,-...tapi berhubung Villa Cemara letaknya tepat depan gerbang masuk, jadi seolah-olah Taman Nasional itu sepaket dengan villa, alias penghuni villa bisa bebas keluar masuk Taman Nasional sesukanya.(sebenarnya sih engga, cuma kami aja yang sok tau keluar masuk dengan cueknya. Lagian petugas loket engga negur pula!).
Panorama Situgunung luar biasa bagusss banget! Bayangkan saja, ada danau di tengah hutan! Suamiku sampe bilang: 'engga nyangka ya? di Jawa Barat yang penduduknya padat gini masih ada panorama alam yang indah!'
Disana juga tersedia camp-camp yang disewakan buat rombongan. Pada saat kami kesana, ada rombongan karyawan dari suatu perusahaan yang sedang outbound.



Curug Sawer

Diantara semua, mungkin perjalanan menuju Curug Sawer yang paling mengesankan dan tak akan terlupakan seumur hidup. Curug Sawer adalah nama salah satu air terjun di dalam Taman Nasional. Menuju kesana sebenarnya ada 2 cara: naik ojek atau jalan kaki. Kedua-duanya medannya sama berat!
Kami - seperti biasa, dengan sok tau - pilih jalan kaki saja! Padahal udah diperingatkan sama petugas tiket, jalan kesana 2x lipat lebih jauh dari jalan ke Situgunung. Begitupun Tukang Ojek udah nawarin supaya saya dan anak2  naik ojek, apalagi dilihatnya ada 3 anak kecil (terkecil Jasmine, 3 thn kurang 2 bln). Tapi kami bersikeras menolak, karena suami khawatir jalan menuju Curug mirip jalan ke Danau : berbatu-batu dan licin bekas hujan, ga aman dilalui ojek. Namun, berkat bujukan Kakak ipar (katanya..'kasianlah, anggap aja bagi2 rejeki ke tukang ojek!'), akhirnya  ada 2 orang yang naik ojek : Yasser dan sepupunya yang berusia 6 tahun. Ongkos ojek-nya Rp25.000,-/motor. 
Dan ternyata, rute naik ojek berlawanan arah dengan rute jalan kaki! Saya yang melihat Yasser dibawa ngebut tukang ojek ke arah berlawanan....rada ketar-ketir, takut dibawa kabur!

Selanjutnya, perjalanan kami berjalan kaki menuju Curug Sawer adalah perjalanan yang mengharu biru dan mengesankan. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 3 kilo lebih. Kalo jalannya datar dan bagus oke saja! Masalahnya jalan kesana belusukan masuk hutan belantara, menanjak dan menuruni bebatuan tajam serta tanah yang licin sehabis hujan. Belum lagi di sisi kanan jurang yang dalam. Bener2 horor!
Kami berangkat jam 14.00 saat cuaca cerah habis hujan. Tapi saat disana, kok serasa gelap ya? o'iya, kan dalam hutan!
Jangan ditanya bagaimana perasaan saya saat itu! Sepanjang jalan saya merutuk dan nyesel setengah mati, kenapa harus ikut dan kenapa pula bawa Jasmine? Karena, sepanjang perjalanan Jasmine minta digendong ayahnya. Kebayang kan? jalan jauh seolah tak ada ujung, suami sambil bopong anak seberat 12 kilo harus turun naik jalanan yang licin, apa ga bikin suami gempor? saya saja yang cuma nenteng payung capek-nya minta ampun. Padahal tadi suami sempet nolak ikut dengan alasan capek abis jalan kaki gendong Jasmine dari Danau tadi pagi. Tapi demi melihat Jasmine yang maksa ikut ke Curug, akhirnya suami gabung.
Beberapa kali kami bertiga harus beristirahat, sementara sodara-sodara saya yang lain udah jalan mendahului. Setiap kali menuruni jalan sempit berbatu licin yang di kanannya jurang, nyali saya ciut, khawatir lihat suami dan Jasmine mendadak terpeleset dan masuk jurang.
Segala pikiran buruk bermunculan. Seandainya mereka terpeleset masuk jurang, bagaimana nolongnya? harus minta tolong siapa? Hp ga ada signal, dan kalopun minta tolong petugas, itu berarti salah satu dari kami harus balik lagi ke pos jaga di gerbang utama tadi yang jaraknya 2 kiloan. Sepertinya kalo mereka terpeleset masuk jurang, saya lebih baik ikut terjun sebagai tanda penyesalan!

belusukan masuk hutan

Akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan, kami sampai juga di Curug Sawer. Saat kami tiba disana, hujan turun deras. Alhamdulilah...coba kalo hujan turun tadi di tengah jalan? saya bakal nangis sejadi2nya!
Disana Yasser dan sepupunya sudah menunggu ditemani tukang ojek. Syukurlah, mereka selamat!
Cuma seperempat jam kami di Curug Sawer. Mengingat hujan turun makin deras, dan cuaca makin gelap, kami putuskan semua pulang naik ojek. Daripada harus balik lagi lewati hutan tadi?
And you know what? tadinya kupikir medan yang dilalui ojek pasti seperti jalan umum biasa, eh..ternyata: sama gilanya! Ojek yang kami tumpangi harus melewati jalanan sempit, licin berbatu dengan disisi kanan jurang dengan jarak tempuh yang sama jauhnya saat lewati hutan tadi.
Beberapa kali saya dan Yasser harus mengingatkan tukang ojek supaya ga ngebut pas turunan tajam. Tukang ojek dengan santainya malah bilang 'ini ga ngebut kok Bu, kami udah biasa lewati jalan ini!"...yah, situ biasa, bagi kami luar biasa.
Pokoknya, perjalanan pulang dengan tukang ojek gila, sama mengerikannya dengan perjalanan berangkat lalui hutan tadi!
Sampai di vila, saya harus sujud syukur berkali-kali, karena semua bisa kembali dengan selamat!

Setelah melewati setengah hari perjalanan yang mengharu biru itu, kapok-kah saya?
saat itu dan besoknya saya bilang 'Kapok, ga mau lagi kesana!.
Tapi sekarang, rasanya saya pengen balik lagi.
Rupanya ini yang namanya tobat sambel!



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...