Tuesday, April 14, 2015

Maraknya Tempat Kuliner di Bogor


Apakah anda sering berkunjung ke kota Bogor? kalo sering, dan begitu sampe Bogor hobi anda adalah berkeliling-keliling kota, maka anda temukan hampir semua sudut kota Bogor jadi tempat wisata kuliner. Dari mulai gang sempit sampe jalan protokol, penjual makanan bertebaran. Satu sisi kita tak usah khawatir kelaparan karena di tiap sudut dan belokan ada tukang makanan, tapi sisi lain kota jadi makin ga karu-karuan. Apalagi, tau sendiri, dimana ada warung makan, disitu ada sampah. Syukur2 si pedagang sadar diri, abis selesai jualan- beres-beres- gerobak jualan berikut sampahnya ikut dibawa pulang. Sayangnya, kebanyakan selesai jualan meninggalkan tumpukan sampah.

Maraknya tukang makanan di sepanjang trotoar, beberapa waktu lalu sudah diatasi oleh walikota Bogor dengan menugaskan Satpol PP untuk membabat habis para penjual yang memanfaatkan trotoar tidak sesuai fungsinya. Jalan sepanjang menuju kantor saya, termasuk tempat favorit orang berjualan. Saat beres-beres Satpol PP bulan lalu, jalan saya termasuk yang dibabat habis. Seperti biasa, begitu konvoi mobil Satpol PP muncul, para pedagang pun sibuk selamatkan dagangan, termasuk gerobak.

Waktu ada pembersihan itu, kebetulan saya lagi sholat sunah di musholla. Lagi khusuk-khusuknya berdoa, tiba-tiba suara geradag-gerudug keras mendekat, diiringi suara orang-orang ribut. Saya yang lagi sholat -hilang konsentrasi- penasaran ada apa. Apakah ada kerusuhan? saya paling takut sama kerusuhan. Kantor saya deket sama sekolahan swasta yang doyan tawuran. Sudah beberapa kali orang2 kantor menyaksikan anak sekolah ditonjokin, ditendang, dikeroyok sampe babak belur. Saya sendiri engga berani lihat, cuma denger dari cerita teman.

Selesai sholat, saya lihat ternyata suara geradag-gerudug tadi berasal dari gerobak rokok yang didorong ke dalam halaman kantor saya, waduh! Kantor saya memang lokasi strategis buat menyelamatkan diri. Petugas Satpol PP tentunya ga akan berani memasuki wilayah kami. Wilayah kantor kami ibarat Kedutaan Besar negara yang punya imunitas. Sebenarnya mereka tidak diperbolehkan memasukan gerobaknya ke kantor kami, tapi kata temenku, mengingat unsur 'kasihan' dan kebetulan kami kenal dekat dengan pemilik gerobak -yang sudah lama mangkal depan kantor- yah..untuk kali ini si pemilik gerobak dipersilahkan menyimpan gerobaknya sampe Satpol PP pergi. 

Saya lihat beberapa orang dengan raut muka ketakutan, khawatir dan lelah-sehabis dorong-dorong gerobak yang ukurannya lumayan besar. Melihat itu, ada rasa iba. Apalagi kalo pas di TV suka lihat tuh yang di Jakarta, Satpol PP-nya yang terkenal galak-galak, tanpa ampun mengangkut gerobak berikut isi-isinya. Sementara si pemilik, kalo perempuan sampe nangis-nangis, termasuk anaknya yang kecil ikut2an nangis dan jerit-jerit.

Gerakan beres-beres jalan dan trotoar oleh Satpol PP, sayangnya tidak berjalan konsisten dan rutin. Cuma kali itu saja saya lihat ada pembersihan. Besoknya? jalan dan trotoar kembali 'gegap gempita' dengan gerobak makanan dan tumpukan sampah. Padahal pas kemarin setelah pembersihan, jalanan terasa lenggang. Sore harinya pas pulang jalan kaki trotoar terasa nyaman banget. Badan ga perlu mepet-mepet bersenggolan dengan orang lain karena sebagian trotoar dipake gerobak jualan.

Sudahlah, lupakan tentang gerobak dan Satpol PP, itu tugasnya Pemkot Bogor. Sekarang kita kembali ke tempat kuliner seperti yang saya bilang di awal, yang sekarang banyak bertebaran di kota Bogor. Coba sekali-kali anda melewati Jalan Ahmad Yani. Jalan yang terkenal dengan kerimbunan pepohonan (banyaknya pohon kenari),  kebersihan-kerapihan jalan dan trotoarnya, sekarang hampir semua bangunan di jalan itu berubah fungsi menjadi tempat makan. Pada umumnya bentuk bangunan di sepanjang jalan Ahmad Yani adalah bangunan peninggalan Belanda atau model jadul dengan halaman yang luas. Maka buat para pengusaha kantong tebal, wilayah ini ideal buat bikin resto/cafe.

makanan khas cafe

Saya perhatikan dalam beberapa bulan ini sudah ada 2-3 tempat makan. Dari mulai model cafe tenda (halaman rumah yang besar diubah jadi tenda cafe) sampe dengan resto modern. Lama-lama, jalan Ahmad Yani berubah  seperti Jalan Pajajaran yang sekarang penuh dengan FO dan cafe. Cuma bedanya, kalo jalan Ahmad Yani pengunjung bisa memarkir mobil dengan leluasa karena halamannya rata2 luas.

Dari sekian banyak cafe dan resto yang bermunculan bak jamur di Jalan Ahmad Yani, sudahkah saya kunjungi semua? hehe..jujur saja tidak. Baru satu-dua yang saya kunjungi, itu pun karena gratisan bareng kantor. Selebihnya saya pilih pikir2 dulu. Selain karena perlu merogoh kocek sendiri, juga karena menu yang disajikan kurang sesuai dengan selera saya, Semua cafe dan resto itu hampir semua memberikan menu sama: makanan eropa. Beberapa memang ada yang spesialis ke makanan tertentu seperti Iga bakar atau tahu petis. Tapi saya lebih suka masakan rumahan ala bu kantin di kantor saya. Sehat dan murah meriah!


rumah tua jadi resto/cafe

Menjamurnya cafe dan resto di sepanjang jalan Ahmad Yani tentunya merubah wajah jalan yang selama ini terkenal sepi dan syahdu. Semoga saja, jalan tersebut engga akan berubah jadi macet dan padat seperti Jalan Pajajaran. Selain itu, semoga keberadaan cafe dan resto berdampak positif buat menyedot tenaga kerja penduduk sekitarnya. Dan jangan lupa, No drug No alcohol!