Fajar Iedul Fitri telah tiba
Mari kita sambut dengan gembira
Meski Pandemi Corona tengah melanda
Lebaran kali ini terasa beda
Karena kami tidak kemana-mana
Bahkan Shalat Iedul Fitri dilakukan disini
Di rumah saja, bersama keluarga tercinta
Kami tidak berkunjung dan dikunjungi sanak saudara dan tetangga
Semua terkurung di rumah dalam kesepiannya
Sungguh, kami tidak membenci Corona
Karena kami tau, semua terjadi atas izin Allah
Tidak ada satupun Dia ciptakan sia-sia
Pasti ada makna dibaliknya
Ya Allah..
Jadikanlah Ramadhan kemarin penuh berkah dan makna
Sucikan kami pada akhirnya
Dan pertemukanlah kembali kami pada Ramadhan berikutnya
Namun dengan suasana yang penuh suka cita
Lebaran kali ini terasa beda
Kami tetap disini Di Rumah Saja
Kelak, suatu saat nanti akan jadi cerita
Kita pernah berlebaran di tengan pandemi Corona
Bogor, 24 Mei 2020 Iedul Fitri 1441 H
Saat Pandemi Corona melanda
This blog is dedicated to my kids, specially my daughter: Jasmine. Why her? 'coz girl usually likes to read more than boys. Last but not least, hope she will read this blog someday and like this!
Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts
Showing posts with label RENUNGAN. Show all posts
Sunday, May 24, 2020
Friday, May 22, 2020
Antara Kita dan Corona
Sudah hampir menuju 3 bulan sejak
diberlakukannya School from home (SfH) dan Work From
Home (WfH), pandemi Corona alias Covid-19 belum menunjukan tanda-tanda
akan berakhir. Padahal baik SfH maupun WfH sudah beberapa kali
diperpanjang. Tidak adanya sinyalemen berakhirnya pandemi, akankah berarti
masa SfH dan WfH akan mengalami perpanjangan lagi? Ibarat pertandingan, waktu
perpanjangan hanya diberi kesempatan 2 kali. Setelah itu penalti. Apapun
hasilnya, pertandingan dianggap selesai. Mungkin demikian juga dengan nasib SfH
dan WfH kelak.
Namun bukan soal
perpanjangan masa SfH dan WfH yang akan dibahas dalam tulisan ini, tapi
bagaimana kita menyikapi efek pandemi Corona.
Di sisi manakah kita selama
ini, apakah termasuk yang suka 'menggerutu' ataukah termasuk kelompok yang
pandai 'bersyukur'?
Semua orang marah pada
pandemi ini, sudah pasti. Utamanya, karena Corona banyak memakan korban jiwa.
Pandemi juga telah
memenjarakan kita – semua para penghuni bumi tanpa kecuali. Ruang gerak
dibatasi, yang suka travelling dipaksa untuk duduk manis di rumah. Yang hobi
belanja, simpan saja uangnya untuk tahun-tahun berikutnya. Dan yang senang
kumpul-kumpul, silahkan menghibur diri di group Whatsapp atau aplikasi chat
lainnya. Jelasnya, semua dipaksa banyak bersabar dan ‘tahan diri’.
Sementara bagi mereka yang
bersyukur, tentu bukan bersyukur penyebaran virusnya, tapi lebih ke arah melihat
sisi baik efek pandemi. Pandemi membuat kita lebih banyak diam di rumah. Anggota
keluarga yang selama ini sibuk dengan dunia masing-masing, kini bisa berkumpul
dan mengakrabkan diri kembali. Seorang ibu pekerja, bisa menemani anaknya belajar
dan mengajaknya bermain, begitu pula Ayah.
Atau mungkin ada juga yang mendadak
tersadar bahwa ternyata diam di rumah terlalu lama membosankan juga, sehingga yang
sebelumnya berniat untuk resign dari status Pegawai Negeri Sipil
(PNS) jadi dipikir ulang. Tambahan lagi, melihat kenyataan bahwa pandemi yang
memukul dunia usaha hingga berujung PHK, nyatanya hanya sedikit berimbas pada mereka
yang berstatus PNS. Status pegawai masih ditangan dan tetap terima gaji plus
tunjangan. Maka, nikmat Tuhanmu mana lagikah yang Engkau dustakan? (Qs.
Ar-Rahman).
Tanpa disadari, Corona juga telah
mengistirahatkan bumi. Gerakan #DiRumahSaja yang
digaungkan di berbagai negara termasuk Indonesia, membuat bumi sejenak terbebas dari segala
macam polusi. Bayangkan, selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB),
jalanan sepi dan lancar jaya. Dan kondisi seperti ini apakah bisa seterusnya
meski pandemi berakhir? Kemarin PSBB dilonggarkan sedikit saja, jalanan kembali
'semarak' dan lautan manusia memenuhi semua sudut pasar.
Bahkan bulan suci Ramadhan kali
ini terasa 'lain'. Umat islam 'dipaksa' untuk lebih banyak diam di rumah, beribadah. Bukan tawaf
di mall, seperti kebiasaan beberapa orang tahun-tahun lalu (termasuk saya).
Kita dipaksa untuk lebih banyak merenung, bersyukur dengan apa yang didapat dan
ikhlas dengan apa yang terjadi. Kepekaan
sosial kita pun diuji. Sesekali lihat kiri-kanan, depan-belakang, apakah ada
yang terpuruk ekonominya karena Corona? Buka mata, buka hati. Jangan segan
untuk merogoh kantong, meski sedikit tapi sangat berarti.
Beberapa hari ke depan Idul
Fitri akan tiba. Lalu bagaimana nanti hari lebaran silaturahmi? gampang, ada
berbagai pilihan aplikasi tersedia. Jangan lupa undang teman dan sanak saudara.
Ikuti anjuran Pemerintah: tidak perlu mudik atau kumpul keluarga lebih dari 5. Cukup
sampaikan ucapan maaf dan hari raya lewat aplikasi tadi. Yang penting maknanya
bukan medianya. Meski jauh di mata, namun tetap dekat di hati.
Hingga saat ini tidak ada ahli
yang bisa memprediksi kapan pandemi Corona akan berakhir. Lantas apakah kita selamanya
akan berdiam di rumah menunggu sesuatu yang tak pasti? SfH dan WfH tidak mungkin
seterusnya. Kehidupan harus tetap berjalan. Pada akhirnya kita memang
harus ‘berdamai’ dengan Corona. Dalam arti kata, kita kembali ke kehidupan normal,
meski Corona masih di sekitar kita. Namun kehidupan ‘normal’ yang sekarang tidak
sama seperti sebelumnya. New normal life, begitu istilahnya.
Anak-anak akan kembali ke
sekolah, karyawan kembali ke kantor, pedagang kembali ke pasar, tapi mereka tetap
harus jaga jarak dan membiasakan gaya hidup sehat. Gunakan masker saat keluar
rumah, rajin cuci tangan dan jaga daya tahan tubuh dengan makanan bergizi dan asupan
vitamin. Berat memang, tapi mau gimana lagi? Corona masih disekitar kita dan siap mengintai siapa saja yang lengah dan tak berdaya.
Satu hal paling penting:
tetaplah berpikir positif.
Percayalah, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu
dengan sia-sia. Pasti ada makna luar biasa dibaliknya.
Bogor, 20 Mei 2020, pada
suatu hari di teras rumah saat pandemi melanda.
Wednesday, November 18, 2015
Inilah Mimpi-Mimpiku di Masa Lalu
![]() |
| Kutepati janji, slalu mengantarnya ke sekolah |
Entah kenapa, tadi pas buka blog ini, saya iseng membuka postingan lama saya. Penasaran sejauh mana perkembangan cara bertutur saya di blog ini. Dari mulai bergaya anak gaul di awal-awal blog berdiri (yang bikin malu hati), hingga sekarang gaya bertutur saya yang sok bijaksana - bijaksini.
Nah, diantara sekian postingan lama, saya baca postingan saya yang judulnya Berpacu Dengan Waktu. Inti postingan itu adalah keluh kesah saya atas aktivitas rutin pagi hingga malam saat masih bekerja di Jakarta dulu.
Di pagi buta saya harus bergerak cepat ngurus anak2 dulu sebelum berlari mengejar kereta. Trus larut malam saat anak2 sudah tidur, saya baru sampai rumah. Tuhan, sampai kapan itu berakhir? sampe pensiun? Begitu isi keluhan saya di postingan tadi.
Di pagi buta saya harus bergerak cepat ngurus anak2 dulu sebelum berlari mengejar kereta. Trus larut malam saat anak2 sudah tidur, saya baru sampai rumah. Tuhan, sampai kapan itu berakhir? sampe pensiun? Begitu isi keluhan saya di postingan tadi.
And Now, here I am : keluhan saya, jeritan hati saya, dan mimpi-mimpi saya - agar bisa menyiapkan makan dan bekal sekolah anak2, agar bisa mencium kening mereka dan melambaikan tangan saat mereka berangkat sekolah - Telah didengar Allah, Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Sungguh, Allah telah mengabulkan semua mimpi-mimpi saya itu.
فَبِأَيِّآلَاءرَبِّكُمَاتُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Itulah kutipan ayat dari surat Ar-Rahman yang pas kena buat saya. Sepertinya saya harus banyak bersyukur, karena Allah telah mengabulkan semua impian saya di masa lalu.
Jika saat ini saya menghadapi kesulitan atau ada sesuatu hal yang menjengkelkan, baik yang muncul di kantor (Bogor) maupun oleh tingkah anak2 di rumah, itu tak seberapa! Saya harus me-remind myself, bahwa semua kesulitan dan kekesalan itu lebih baik dibandingkan saat saya masih bekerja di Jakarta dulu.
Dan bila saya pikir2 kembali, sepertinya tidak hanya mimpi tentang pindah tempat kerja ke Bogor saja yang telah Allah kabulkan. Masih banyak lagi yang lain, yang tidak bisa kusebutkan disini.
Yang jelas, teruslah bermimpi dan berdoa tiada henti, karena Allah Maha mendengar dan Maha bijaksana. Ingatlah quote Andrea Hirata dalam novelnya Laskar Pelangi : Bermimpilah, Karena Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpimu...
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Thursday, November 12, 2015
Kesempatan Kedua
Waktu berlalu begitu cepat, sudah setengah tahun tidak mem-post kan sesuatu di blog ini. Perpaduan antara kurangnya minat menulis dan koneksi internet di kantorku yang sering error hingga menghambat produktifitas blog ini. Dan bila sekarang mendadak ada dorongan untuk menulis lagi, itu karena duka. Duka yang menggiringku kesini.
Kukatakan tahun ini adalah tahun yang mengharu biru bagiku dan keluarga besarku. Kami sedang menghadapi banyak ujian dan cobaan (kami anggap begitu. Rasanya lebih enak daripada disebut 'musibah'). Ujian dan cobaan itu berbentuk segala rupa. Dan setiap kali kami berhasil melaluinya, kami bersyukur luar biasa.
Mungkinkah ini salah satu peringatan dari Allah karena selama ini kami 'kurang' mengucap 'syukur'? mungkin saja. Tapi mungkin juga karena selama ini kami terlalu banyak dinina-bobokan oleh kesenangan, hingga Allah khawatir kami terlena dengan segala kesenangan itu. Sungguh, jika demikian Allah sangat menyayangi kami. Allah tidak ingin kami lupa bagaimana rasanya sedih, susah dan cara menghiba pada-Nya. Bukankah Allah paling suka melihat hamba-Nya banyak berdoa dan meminta ?
Dari sekian banyak ujian, ada satu yang paling membuatku benar2 menangis: ujian sakit yang sedang menimpa kakak tercintaku. Yang membuat kami semakin sedih, kami baru tau setelah anaknya alias keponakan kami memaksa sang ibu untuk melakukan serangkaian test guna memastikan sejauhmana penyebaran penyakit tersebut. Dan kini hasilnya sungguh mengkhawatirkan.
Kakakku satu itu memang orangnya cenderung pendiam. Dia tidak suka bercerita tentang kehidupannya kepada kami adik-adiknya, termasuk bercerita soal penyakitnya. Mungkin dia tidak ingin kami turut memikirkan penderitaannya disaat kami sendiri sedang banyak ujian/cobaan. Tapi jadi beginilah akhirnya, kami sedih dan menyesal. Kalau saja dia cerita dari dulu, mungkin kami sekeluarga akan berdiskusi guna menentukan apa langkah pengobatan terbaik yang harus diambil.
Ya, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Kata dokter, penyakit itu sudah menyebar hampir keseluruh organ tubuh. Meski demikian, kami tetap berusaha untuk menempuh berbagai proses pengobatan baginya. Kami tak peduli pendapat orang dan ahli kedokteran yang menyatakan bahwa penyakit itu mematikan dan bila sudah mencapai stadium 4 maka akan susah untuk disembuhkan. Kami percaya, jika Allah berkehendak maka segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk kesembuhan kakak-ku. Yang penting sekarang kami tetap berusaha sambil berdoa. Semoga Allah memberikan kesembuhan bagi kakakku; memberikannya kesempatan kedua untuk hidup menjadi pribadi yang lebih baik, dan Allah memberi kami kesempatan kedua untuk lebih peduli padanya.
Ada satu doa yang sering kubaca selesai sholat Dhuha di sudut mushola kantor. Doa yang jika selama ini aku membacanya tanpa ekspresi, namun entah kenapa setelah datangnya ujian yang menimpa kakakku, kubaca doa ini dengan sepenuh hati diiringi derai airmata. Ingin kuberikan doa ini pada kakakku, agar dia selalu membacanya setiap waktu.
إِلَهِي كُلَّمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ نِعْمَةً قَلَّ لَكَ عِنْدَهَا شُكْرِي, وَكُلَّمَا ابْتَلَيْتَنِي بِبَلِيَّةٍ قَلَّ لَكَ عِنْدَهَا صَبْرِي. فَيَا مَنْ قَلَّ شُكْرِي عِنْدَ نِعَمِهِ فَلَمْ يَحْرِمْنِي, وَيَا مَنْ قَلَّ صَبْرِي عِنْدَ بَلاَئِهِ فَلَمْ يَخْذُلْنِي, وَيَا مَنْ رَآنِي عَلَى الْمَعَاصِي فَلَمْ يَفْضَحْنِي, وَيَا مَنْ رَآنِي عَلَى الْخَطَايَا فَلَمْ يُعَاقِبْنِي عَلَيْهَا, صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَاشْفِنِي مِنْ مَرَضِي, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Tuhanku, acapkali nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku, sedikit sekali aku berterima kasih kepada-Mu atas nikmat tersebut.
Dan setiap bencana yang Engkau timpakan kepadaku, kesabaranku kepada-Mu sangat sedikit ketika menghadapinya.
Wahai yang menerima rasa syukur yang sedikit atas nikmat yang di anugerahkan-Nya, Dia tidak mencegahku (untuk tetap memperoleh nikmat-Nya)
Wahai yang menerima kesabaran yang sedikit terhadap bencana yang diturunkan-Nya, Dia tidak menelantarkanku.
Wahai yang melihatku dalam maksiatku, dan Dia tidak mengungkapkannya (di hadapan mahluk yang lain).
Wahai yang melihatku dalam kesalahan-kesalahan, Dia tidak (segera) menghukumku atas kesalahan-kesalahan tersebut.
Sampaikanlah Salawat kepada Nabi Muhamad SAW dan keluarganya.
Ampunilah dosaku, sembuhkanlah aku dari sakitku.
Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Kukatakan tahun ini adalah tahun yang mengharu biru bagiku dan keluarga besarku. Kami sedang menghadapi banyak ujian dan cobaan (kami anggap begitu. Rasanya lebih enak daripada disebut 'musibah'). Ujian dan cobaan itu berbentuk segala rupa. Dan setiap kali kami berhasil melaluinya, kami bersyukur luar biasa.
Mungkinkah ini salah satu peringatan dari Allah karena selama ini kami 'kurang' mengucap 'syukur'? mungkin saja. Tapi mungkin juga karena selama ini kami terlalu banyak dinina-bobokan oleh kesenangan, hingga Allah khawatir kami terlena dengan segala kesenangan itu. Sungguh, jika demikian Allah sangat menyayangi kami. Allah tidak ingin kami lupa bagaimana rasanya sedih, susah dan cara menghiba pada-Nya. Bukankah Allah paling suka melihat hamba-Nya banyak berdoa dan meminta ?
Dari sekian banyak ujian, ada satu yang paling membuatku benar2 menangis: ujian sakit yang sedang menimpa kakak tercintaku. Yang membuat kami semakin sedih, kami baru tau setelah anaknya alias keponakan kami memaksa sang ibu untuk melakukan serangkaian test guna memastikan sejauhmana penyebaran penyakit tersebut. Dan kini hasilnya sungguh mengkhawatirkan.
Kakakku satu itu memang orangnya cenderung pendiam. Dia tidak suka bercerita tentang kehidupannya kepada kami adik-adiknya, termasuk bercerita soal penyakitnya. Mungkin dia tidak ingin kami turut memikirkan penderitaannya disaat kami sendiri sedang banyak ujian/cobaan. Tapi jadi beginilah akhirnya, kami sedih dan menyesal. Kalau saja dia cerita dari dulu, mungkin kami sekeluarga akan berdiskusi guna menentukan apa langkah pengobatan terbaik yang harus diambil.
Ya, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Kata dokter, penyakit itu sudah menyebar hampir keseluruh organ tubuh. Meski demikian, kami tetap berusaha untuk menempuh berbagai proses pengobatan baginya. Kami tak peduli pendapat orang dan ahli kedokteran yang menyatakan bahwa penyakit itu mematikan dan bila sudah mencapai stadium 4 maka akan susah untuk disembuhkan. Kami percaya, jika Allah berkehendak maka segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk kesembuhan kakak-ku. Yang penting sekarang kami tetap berusaha sambil berdoa. Semoga Allah memberikan kesembuhan bagi kakakku; memberikannya kesempatan kedua untuk hidup menjadi pribadi yang lebih baik, dan Allah memberi kami kesempatan kedua untuk lebih peduli padanya.
Ada satu doa yang sering kubaca selesai sholat Dhuha di sudut mushola kantor. Doa yang jika selama ini aku membacanya tanpa ekspresi, namun entah kenapa setelah datangnya ujian yang menimpa kakakku, kubaca doa ini dengan sepenuh hati diiringi derai airmata. Ingin kuberikan doa ini pada kakakku, agar dia selalu membacanya setiap waktu.
إِلَهِي كُلَّمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ نِعْمَةً قَلَّ لَكَ عِنْدَهَا شُكْرِي, وَكُلَّمَا ابْتَلَيْتَنِي بِبَلِيَّةٍ قَلَّ لَكَ عِنْدَهَا صَبْرِي. فَيَا مَنْ قَلَّ شُكْرِي عِنْدَ نِعَمِهِ فَلَمْ يَحْرِمْنِي, وَيَا مَنْ قَلَّ صَبْرِي عِنْدَ بَلاَئِهِ فَلَمْ يَخْذُلْنِي, وَيَا مَنْ رَآنِي عَلَى الْمَعَاصِي فَلَمْ يَفْضَحْنِي, وَيَا مَنْ رَآنِي عَلَى الْخَطَايَا فَلَمْ يُعَاقِبْنِي عَلَيْهَا, صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَاشْفِنِي مِنْ مَرَضِي, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Tuhanku, acapkali nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku, sedikit sekali aku berterima kasih kepada-Mu atas nikmat tersebut.
Dan setiap bencana yang Engkau timpakan kepadaku, kesabaranku kepada-Mu sangat sedikit ketika menghadapinya.
Wahai yang menerima rasa syukur yang sedikit atas nikmat yang di anugerahkan-Nya, Dia tidak mencegahku (untuk tetap memperoleh nikmat-Nya)
Wahai yang menerima kesabaran yang sedikit terhadap bencana yang diturunkan-Nya, Dia tidak menelantarkanku.
Wahai yang melihatku dalam maksiatku, dan Dia tidak mengungkapkannya (di hadapan mahluk yang lain).
Wahai yang melihatku dalam kesalahan-kesalahan, Dia tidak (segera) menghukumku atas kesalahan-kesalahan tersebut.
Sampaikanlah Salawat kepada Nabi Muhamad SAW dan keluarganya.
Ampunilah dosaku, sembuhkanlah aku dari sakitku.
Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Friday, July 25, 2014
Kulihat Ramadhan Semakin Menjauh...
Lalu kusapa ia hendak kemana?
Dengan lembut ia berkata: “Aku harus pergi, mungkin jauh dan sangat lama. Tolong sampaikan pesanku untuk orang MUKMIN....Syawal akan tiba sebentar lagi, Ajaklah SABAR untuk menemani hari-hari dukanya, Peluklah ISTIQOMAH saat dia kelelahan dalam perjalanan TAQWA, Bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang, Mintalah nasehat QURAN dan HADIST di setiap masalah yang dihadapi. Sampaikan pula salam dan terima kasih untuknya, karena telah menyambutku dengan sukacita. Kelak akan kusambut mereka di SYURGA dari pintu AR-ROYAN”.
Aku lihat Ramadhan semakin menjauh
Lalu kubertanya dalam hati : Apakah aku bisa bertemu dengannya kembali di tahun nanti? Semoga Allah SWT meridhoi..
Lalu kubertanya dalam hati : Apakah aku bisa bertemu dengannya kembali di tahun nanti? Semoga Allah SWT meridhoi..
Note:
Tulisan
diatas dikutip dari milis tetangga. Saya baru sadar, kalo Ramadhan akan
segera berlalu dan menjauh. Sementara ibadah saya belum apa2. Betapa
meruginya saya?
Friday, January 24, 2014
Dan Waktu berlalu..

Andai aku bisa..
Memutar kembali..
Waktu yang telah berjalan..
tuk kembali bersama, di dirimu selamanya....
Lirik lagu itu pantas kunyanyikan tadi malam.
Rasa sedih dan kehilangan itu masih terasa sampai sekarang. Entah kenapa, semalam mendadak jadi melankolis.
Sepulang kerja jam 19.30-an, seperti biasa langsung kubereskan rumah, sebelum mandi, makan, dan meninabobokan si kecil Jasmine.
Sibuk beres2 rumah sampai lupa kalo jam sudah menunjukan angka 22.00.
Kemanakah Yassin-Yasser, dua bocah lelakiku? biasanya mereka sedang bermain di kamarku menggoda si kecil jasmine. Atau biasanya mereka sedang nonton TV, Spongebob- film kartun kegemaran Yasser, yang paling kubenci karena selalu tayang pas jam anak berangkat sekolah pagi dan pas jam anak belajar malam.
O'iya..aku lupa, sudah seminggu ini mereka memutuskan untuk tidur di kamarnya di lantai atas. Kebetulan di kamar atas ada TV juga. Tentunya mereka sedang menonton disana.
Kemanakah Yassin-Yasser, dua bocah lelakiku? biasanya mereka sedang bermain di kamarku menggoda si kecil jasmine. Atau biasanya mereka sedang nonton TV, Spongebob- film kartun kegemaran Yasser, yang paling kubenci karena selalu tayang pas jam anak berangkat sekolah pagi dan pas jam anak belajar malam.
O'iya..aku lupa, sudah seminggu ini mereka memutuskan untuk tidur di kamarnya di lantai atas. Kebetulan di kamar atas ada TV juga. Tentunya mereka sedang menonton disana.
Ide pindah tidur di kamar atas berawal dari Yassin, anak tertuaku. Mungkin karena sekarang dia masuk usia remaja, jadi pengen ada privacy. Akibatnya, Yasser - adiknya, ikut2an tidur di atas juga.
Pertama kali mereka tidur dikamarnya, saya dan suami senang. Karena kamar mereka yang sudah lama kosong, akhirnya ditempati juga. Terutama suamiku yang paling senang. Dari dulu susah sekali menyuruh anak-anak menempati kamar yang memang disediakan untuk mereka. Apalagi kamar itu baru saja selesai direnovasi suamiku biar mereka nyaman.
Namun semalam, rasa senang karena mereka pindah kamar, mendadak lenyap. Yang muncul malah sedih dan rasa kehilangan.
Saya mendadak kangen anak2 yang suka seenaknya mendahului kami tidur di ranjang saya. Hingga terkadang suami jadi pilih berbaring di kursi tamu, karena ga kebagian kavling.
Saya rindu Yasser yang setiap mau tidur selalu minta saya menggaruk punggungnya. Dan seringkali saya selalu menolak atau meminta dia menunggu karena saya sibuk beres2 atau ngurus Jasmine. Begitu saya beres dan siap2 menggaruk punggungnya, anaknya malah sudah keburu tidur lelap.
Saya juga rindu anak2 mengacak2 tempat tidur kami dengan boneka2 Jasmine dan bantal2. Kamar kami menjadi seperti kapal pecah, yang seringkali membuat saya senewen dan marah2 pada mereka.
Semalam saya rindu itu semua, saya menangis. Saya ingin itu kembali. Yasser yang melihat saya menangis hanya termenung. Saya ga bilang padanya bagaimana perasaan saya. Dia cuma duduk di samping saya dan bersender di bahu saya. Pasti dikepalanya ada seribu pertanyaan tentang saya. Dia bingung harus bagaimana. Dari ekspresi mukanya, jelas dia mengkhawatirkan saya.
Suami yang baru pulang kerja, kaget melihat wajah saya. Tentu dibenaknya 'pasti telah terjadi peristiwa tragis dialami istri saya'. Namun rasa khawatirnya itu berubah jadi heran, setelah saya ceritakan kenapa saya menangis. Sambil geleng-geleng kepala dia bilang begini: "mama..mama, anak2 baru pindah tidur ke lantai atas aja sudah nangis2. Apalagi kalo nanti ditinggal mereka kuliah ke luar kota!"
Saya cuma diam sambil terus berderai-derai. Dalam hati saya menyahut, 'itu lain cerita. Kalo mereka nanti pindah karena kuliah, mereka sudah besar. Saya tentunya lebih lapang dada. Tapi kalo sekarang, mereka pindah tidur saat mereka masih kecil. Saya belum siap ditinggalkan, meski di rumah yang sama. Sepertinya saya baru saja menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama mereka saat mereka membutuhkan. Dan sekarang mereka mendadak seperti tidak membutuhkannya lagi. Masa kecil itu tidak akan pernah terulang lagi. Sekali kau lewati, dia tidak akan pernah kembali.
Dan malam itu, sepertinya saya baru menyadari...mereka sudah besar dan mulai memiliki dunianya sendiri. Dunia yang mulai tidak perlu banyak campur tangan ibu.
Hm...mungkin seperti ini juga yang dirasakan ibuku dulu, saat anak-anaknya satu demi satu meninggalkannya dan memiliki dunianya masing2 dalam sebuah keluarga baru. Pantas saja, ibuku suka tiada henti menelpon anak2nya, meski cuma sekedar bertanya kabar.
Bagi kami anaknya, telpon itu sepele. Padahal bagi ibu, itu rindu.
Sekarang rasa itu ada padaku. Meski rasanya terlalu cepat.
Sekarang rasa itu ada padaku. Meski rasanya terlalu cepat.
My Kids are my heart and soul
They will always be my babies, even when they grow old...
Monday, July 29, 2013
Jadikan Kami Hafidz Qur'an
Seorang anak usia 3 tahunan (seusia putriku Jasmine) dengan gaya lucu khas anak2 mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari satu surat yang lumayan panjang dengan suara lantang dan lancar. Saat itu, mungkin hampir semua yang menyaksikan dibikin melongo, kagum dan terheran-heran. Kok bisa anak seusia itu hafal surat sepanjang itu?
Yang makin membuat saya kagum, ternyata tidak cuma satu surat dia hafal. Sepertinya semua surat di Juz 30 dia hafal. Hal ini terbukti pada saat sesi sambung ayat (salah satu juri membacakan ayat secara acak kemudian si anak kecil tadi harus meneruskan ayat berikutnya), bocah lucu itu dengan tenangnya bisa meneruskan ayat-ayat selanjutnya sampai tuntas. Luar biasa!
Semua orang di studio sebuah stasiun TV swasta tersebut menatap si anak dengan perasaan kagum dan mata berkaca2. Termasuk saya. Kemudian salah satu juri berkomentar "saya masih penasaran, bagaimana cara Bundanya mengajarkan Adi menghafal sebanyak itu?". Kamera pun menyorot sang Bunda, lalu Ayah si anak itu. Saya bisa merasakan betapa bangganya kedua orang tua itu karena putra kecilnya bisa menghafalkan Al-Quran di usia dini. Seandainya mereka adalah saya. Dan anak itu adalah anakku.
Acara itu saya tonton tanpa sengaja pada saat Sahur. Sebuah acara yang terasa beda dengan acara-acara sahur di stasiun lainnya yang menampilkan dagelan tak tepat waktu.
Acara di stasiun TV itu menampilkan anak-anak rata2 berusia di bawah 12 tahun berlomba hapalan Al-Qur'an. Sebuah kompetisi yang sepertinya jarang ditampilkan sebuah TV. Kebanyakan stasiun TV hanya mengadakan lomba nyanyi, nari, lawak, modeling dan sejenisnya. Tentunya karena lomba2 seperti itu lebih banyak peminat, banyak penonton dan banyak pula iklan yang jadi sponsor. Pemenang dari ajang lomba tersebut dijamin menjadi Top sesudahnya. Setidaknya jadi bintang iklan Sozzis.
Sebagai orang tua, saya seringkali menyuruh anak saya agar tekun belajar supaya jadi juara. Mendorong mereka supaya giat berlatih beladiri, belajar bahasa asing supaya fasih, mengasah bakat bermain musik dsb. Tapi rupanya saya lupa mendorong mereka untuk giat menghafal Al-Qur'an.
Mereka memang ikut TPA di dekat rumah. Tapi itu hanya sebatas belajar membaca, dan bukan dilatih intensif hapalan Al-Qur'an.
Jujur saja, saya sendiri hanya hafal beberapa surat, itu pun surat pendek dan yang sering dilafalkan orang2 pada umumnya saat shalat. Dan saya rasa bacaan tajwid saya pun belum betul panjang-pendeknya.
Kesadaran membaca dengan benar dan menghafal Al-Quran baru terasa setelah menonton acara tadi. Masyaallah..kemana saja saya setelah beberapa puluh tahun berlalu? kenapa baru sadar sekarang? masa saya kalah sama anak usia 3 tahun?
Padahal kalo kita cermati, Al-Quran itu dari masa Rosul sampai sekarang ga berubah, ya itu-itu saja. Artinya, secara logika harusnya setiap orang bisa menghafalnya dengan mudah.
Al-Qur'an tidak seperti buku sejarah atau buku-buku pelajaran sekolah yang sering berubah2 setiap tahun ajaran baru, hingga bikin bingung orangtua (karena harus selalu membeli baru) dan juga bikin bingung si anak karena beda2 versi pengajaran.
Tapi kenapa kitab yang konsisten dengan isinya itu malah dinomor duakan (atau malah nomor kesekian) untuk dibaca dan dihafal? Satu pertanyaan yang harus dijawab oleh kita sebagai orang yang mengaku muslim.
Rasa miris saya atas kurangnya kemampuan hafalan Al-Qur'an pada anak-anak semakin terasa pada saat buka bersama keluarga besar kami kemarin.
Seperti biasa, sesaat sebelum Adzan magrib, salah seorang kakak ipar melempar kuis. Kuis-nya biasanya masing2 anak diminta melafalkan salah satu doa atau surat yang dia hafal. Demikian pula saat buka bersama kemarin.
Seperti yang kuduga, ternyata doa dan surat yang anak-anak baca tidak jauh berbeda dengan yang tahun kemarin. Hanya doa pendek dan surat-surat pendek yang umum dibaca. Berarti dalam setahun ini tidak ada anak-anak kami yang menambah hafalan Al-Qur'an?
Seperti yang kuduga, ternyata doa dan surat yang anak-anak baca tidak jauh berbeda dengan yang tahun kemarin. Hanya doa pendek dan surat-surat pendek yang umum dibaca. Berarti dalam setahun ini tidak ada anak-anak kami yang menambah hafalan Al-Qur'an?
Untungnya, diantara kesedihan itu, ada sedikit angin sejuk. Yasser melafalkan satu surat agak panjang, meski dengan terbata2 dan harus mengulang beberapa kali karena lupa.
Cuma yang bikin miris, saat ada satu ayat yang dia lupa, tak seorangpun dari kami yang bisa membantunya (karena tidak ada yang hafal), termasuk saya ibunya (Tamparan telak buat saya). Padahal saat itu sepertinya Yasser berharap ada seseorang mengingatkan dia- setidaknya memberi clue apa ayat selanjutnya.
Cuma yang bikin miris, saat ada satu ayat yang dia lupa, tak seorangpun dari kami yang bisa membantunya (karena tidak ada yang hafal), termasuk saya ibunya (Tamparan telak buat saya). Padahal saat itu sepertinya Yasser berharap ada seseorang mengingatkan dia- setidaknya memberi clue apa ayat selanjutnya.
Namun Alhamdulillah, meski tanpa ada yang membantunya, dia bisa mengingat kembali ayat yang dia lupa dan akhirnya bisa menuntaskan bacaan surat tersebut sampai akhir.
Semua tepuk tangan. Lega. Utamanya saya.
Semua tepuk tangan. Lega. Utamanya saya.
Bagian yang memalukan bagi saya, saat para sepupunya yang kebetulan duduk disebelah saya bertanya "Ci, emang itu surat apa yang dibaca Yasser?"...."hm...surat apa ya? Aci juga ga tau nama suratnya!" jawab saya dengan perasaan malu luar biasa (Tamparan kedua buat saya).
Sejak saat itu dan supaya tidak mendapat tamparan ketiga kali, saya berniat mengajak anak-anak untuk menghafal Al-Qur'an sejak dini. Jangan sampe mereka mengulang kesalahan seperti ibunya.
Masa kontrak hidup saya di dunia tinggal beberapa puluh tahun lagi (kalo panjang umur), tapi hafalan Qur'an masih sedikit. Betapa meruginya saya, karena berapa puluh tahun telah terbuang percuma tanpa hafalan.
Ayo anak-anakku, kita mulai menghafal Al-Qur'an!
Wednesday, October 3, 2012
Seandainya itu Anakku...
![]() |
| di sebuah trotoar, di samping hotel berbintang |
Seandainya dia anak kita, apa yang ada dalam pikiranmu kawan?
Kalo aku, mungkin akan kubisikan padanya:
Tidurlah Nak!
Mimpikan dirimu dalam istana,
bermain dan bergembira..
Tidurlah Nak!
Sementara Ibu akan terus berdoa,
semoga besok kita punya rumah mungil bertaman bunga..
Tidurlah Nak!
Teruslah bermimpi,
karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu..
Friday, September 28, 2012
Anak itu Titipan Illahi..
Semua orang geregetan,
muak , lantas berkomentar : hukum berat saja! , penjara seumur hidup!
atau ini yang lebih sadis: balas
bunuh saja!
Begitulah komentar
sebagian besar masyarakat terhadap anak yang menjadi pelaku pembunuhan dalam 2
kasus tawuran pelajar sepekan ini.
Mungkin anda pun berkomentar demikian. Termasuk
saya!
Namun, saat di
perjalanan menuju tempat kerja tadi, entah kenapa saya mulai berpikir balik.
Sebenarnya, kenapa seorang anak bisa berprilaku sebiadab itu?
Pantaskah kita
mencaci makinya dan mengharapkan agar si anak nakal itu dihukum
seberat-beratnya?
Tanpa mengurangi
rasa simpati saya pada keluarga korban, mari kita mencoba sedikit menyelami kondisi kejiwaan si anak nakal itu.
Saya menulis ini dari sudut seorang wanita, ibu dari 3 orang anak yang mulai tumbuh kembang.
Saya menulis ini dari sudut seorang wanita, ibu dari 3 orang anak yang mulai tumbuh kembang.
Seorang anak pada
dasarnya lahir ke dunia bagaikan kertas putih, polos, bersih.Tentang bagaimana
kehidupannya kemudian, tergantung dari bagaimana orangtua dan lingkungan
menorehkan tinta di kertas tersebut. Apakah
si kertas akan diukir dengan tinta emas yang berisi kalimat-kalimat atau
lukisan indah dan rapi? Ataukah berupa coretan abstrak, kalimat serapah dengan
tinta tumpah disana-sini?
Anak yang
dibesarkan dengan perhatian dan kasih sayang, akan menjadi anak yang juga
perhatian kepada orang lain.
Tapi kasih sayang
dan perhatian bukan hanya berupa materi! Karena materi saja tidak cukup untuk
membentuk karakter si anak. Anak yang dilimpahi banyak materi malah cenderung
menjadi anak yang materialistis.
Kasih sayang dan perhatian yang dimaksud adalah kontak jiwa orangtua.
Kasih sayang dan perhatian yang dimaksud adalah kontak jiwa orangtua.
Orangtua harus tau
kapan saatnya memuji bila si anak berbuat baik, kapan saatnya menegur bila si
anak berbuat salah. Belailah rambutnya saat mereka bersedih, rengkuhlah bahunya saat
mereka bimbang.
Anak-anak yang terlibat tawuran itu, apakah orangtuanya mencurahkan kasih
sayang dan perhatian seperti di atas?
Banyak orangtua
merasa, setelah memberi makan, menyekolahkan, dan beri uang jajan, tugas
orangtua selesai! Padahal tugas orangtua tidak hanya itu!
Ada yang lebih
utama dan penting dari semua itu: mendidik dan membimbing mereka!
Loh, kan itu tugas guru? Ya, benar!
Tapi guru bukan orangtua yang dari sejak bayi menimang mereka. Sebagian besar kehidupan anak adalah di sisi orangtua. Seorang Guru harus mendidik – 30 sampai 50 orang anak dalam 1 kelas! Apakah guru bisa mendeteksi kejiwaan muridnya satu persatu?
Sedangkan orangtua, ‘hanya’ mendidik seorang atau paling banyak (sekarang) 8 anak saja! Orangtualah yang seharusnya 'lebih tau' psikologis anak.
Setelah orangtua mendidik dan membimbingnya dengan baik, orangtua harus siap ‘melepaskan’ si anak menghadapi kehidupannya. Jangan menuntut mereka lebih. Apalagi berpamrih. Karena seorang anak yang dilimpahi kasih sayang dan perhatian yang tulus dari orangtua, tanpa diminta pun, Insyalloh mereka akan membalas jasa orangtua (meskipun dibalas sebesar apapun jasa itu ga akan terbalaskan).
Mengenai kewajiban orangtua membimbing dan mendidik anak, saya jadi ingat ceramah seorang Dai kondang. Alkisah, ada sepasang orangtua yang karena ibadahnya yang bagus, lantas Allah memberikannya tiket masuk surga. Sementara itu, anaknya yang nakal dan berprilaku buruk, harus masuk neraka. Namun, pada saat si anak akan masuk pintu neraka, sang anak menyampaikan satu permintaan pada Allah: dia masuk neraka ingin ditemani orangtuanya. Allah bertanya kenapa? si anak menjawab 'kenakalan dan prilaku buruknya' karena orangtuanya tidak pernah membimbing dan mendidiknya! tidak pernah menunjukan mana yang salah mana yang benar!
Allah pun mengabulkan permintaan si anak dan sang orangtua yang tadinya akan masuk surga, diminta untuk menemani dulu sang anak ke neraka.
Loh, kan itu tugas guru? Ya, benar!
Tapi guru bukan orangtua yang dari sejak bayi menimang mereka. Sebagian besar kehidupan anak adalah di sisi orangtua. Seorang Guru harus mendidik – 30 sampai 50 orang anak dalam 1 kelas! Apakah guru bisa mendeteksi kejiwaan muridnya satu persatu?
Sedangkan orangtua, ‘hanya’ mendidik seorang atau paling banyak (sekarang) 8 anak saja! Orangtualah yang seharusnya 'lebih tau' psikologis anak.
Setelah orangtua mendidik dan membimbingnya dengan baik, orangtua harus siap ‘melepaskan’ si anak menghadapi kehidupannya. Jangan menuntut mereka lebih. Apalagi berpamrih. Karena seorang anak yang dilimpahi kasih sayang dan perhatian yang tulus dari orangtua, tanpa diminta pun, Insyalloh mereka akan membalas jasa orangtua (meskipun dibalas sebesar apapun jasa itu ga akan terbalaskan).
Mengenai kewajiban orangtua membimbing dan mendidik anak, saya jadi ingat ceramah seorang Dai kondang. Alkisah, ada sepasang orangtua yang karena ibadahnya yang bagus, lantas Allah memberikannya tiket masuk surga. Sementara itu, anaknya yang nakal dan berprilaku buruk, harus masuk neraka. Namun, pada saat si anak akan masuk pintu neraka, sang anak menyampaikan satu permintaan pada Allah: dia masuk neraka ingin ditemani orangtuanya. Allah bertanya kenapa? si anak menjawab 'kenakalan dan prilaku buruknya' karena orangtuanya tidak pernah membimbing dan mendidiknya! tidak pernah menunjukan mana yang salah mana yang benar!
Allah pun mengabulkan permintaan si anak dan sang orangtua yang tadinya akan masuk surga, diminta untuk menemani dulu sang anak ke neraka.
Sesungguhnya seorang anak adalah sebuah “titipan”, yang harus kita jaga dan
rawat hingga suatu saat si “Pemilik titipan’ mengambil kembali dari kita.
Balasan atas usaha
kita menjaga dan merawat ‘titipan’ itu bukan dari si ‘barang titipan’. Tapi, dari
si ‘Pemilik Titipan’: llahi Rabbi..
Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Thursday, August 16, 2012
**Tobatku..
Ya Allah, sungguh ampunan-Mu lebih aku harapkan daripada amalku
Dan rahmat-Mu lebih luas dari dosaku
Ya Allah, jika dosaku di sisi-Mu tampak besar,
Maka ampunan-Mu lebih besar dari dosaku
Ya Allah, bila aku tak layak untuk mendapatkan rahmat-Mu,
Rahmat-Mu lebih layak untuk menghampiriku dan meliputiku
Karena rahmat itu meliputi segala sesuatu
Dengan rahmat-Mu wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi...
**Doa Tobat dari Rasulullah SAW
Dan rahmat-Mu lebih luas dari dosaku
Ya Allah, jika dosaku di sisi-Mu tampak besar,
Maka ampunan-Mu lebih besar dari dosaku
Ya Allah, bila aku tak layak untuk mendapatkan rahmat-Mu,
Rahmat-Mu lebih layak untuk menghampiriku dan meliputiku
Karena rahmat itu meliputi segala sesuatu
Dengan rahmat-Mu wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi...
**Doa Tobat dari Rasulullah SAW
Tuesday, August 14, 2012
Ramadhan semakin menjauh..
Aku lihat Ramadhan dari kejauhan
Lalu kusapa ia hendak kemana?
Dengan lembut ia berkata: “Aku
harus pergi , mungkin jauh dan sangat lama. Tolong sampaikan pesanku untuk
orang MUKMIN....Syawal akan tiba sebentar lagi, Ajaklah SABAR untuk menemani
hari-hari dukanya, Peluklah ISTIQOMAH
saat dia kelelahan dalam perjalanan TAQWA, Bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan
menyerang, Mintalah nasehat QURAN dan
HADIST di setiap masalah yang dihadapi. Sampaikan pula salam dan terima kasih
untuknya, karena telah menyambutku dengan sukacita. Kelak akan kusambut mereka
di SYURGA dari pintu AR-ROYAN”.
Aku lihat Ramadhan semakin menjauh
Lalu kubertanya dalam hati : Apakah aku bisa bertemu dengannya kembali di tahun nanti? Semoga Allah SWT meridhoi..
Lalu kubertanya dalam hati : Apakah aku bisa bertemu dengannya kembali di tahun nanti? Semoga Allah SWT meridhoi..
Note:
Tulisan diatas dikutip dari milis tetangga. Saya baru sadar, kalo Ramadhan akan segera berlalu dan menjauh. Sementara ibadah saya belum apa2. Betapa meruginya saya?
Monday, June 25, 2012
Suatu Pagi di Kereta...
Kamis pagi, saya sengaja naik kereta jam 06.15. Kereta jam segini lumayan longgar dan saya bisa leluasa milih duduk di gerbong khusus wanita terdepan. Dan kereta pun melaju dengan menyisakan space yang lumayan buat orang2 berdiri dengan nyaman.
Sampai stasiun Cilebut, masuklah seorang ibu dengan menggendong balita, yang diikuti oleh sepasang orang tua (suami-istri) tuna netra.
Tanpa dikomando, hampir semua penumpang kereta di gerbongku (termasuk aku) menatap kearah 'rombongan kecil' itu. Sepertinya hampir semua orang berpikir sama tentang 'rombongan kecil' itu.
Sambil mengobrol, mereka bergerak ke arah courtesy seat di pojokan. Saya pikir, ah...pasti mereka mau duduk disana, mengingat kursi itu memang salah duanya dikhususkan buat ibu membawa balita dan lansia ('rombongan kecil' itu memenuhi syarat, bukan?).
Namun, setelah kuperhatikan, ternyata sampai di tempat tujuan, tidak ada satupun diantara penumpang yang telah duduk di courtesy seat mempersilahkan rombongan kecil itu duduk. Walhasil kulihat, Ibu dan balita -berdiri menyender ke pintu, sementara sepasang orangtua tuna netra itu -duduk ngampar samping kursi khusus itu. What's the hell with people?
Saya, yang duduk jauh dari kursi khusus itu (tempat duduk saya berada di bangku panjang dekat ruang masinis) cuma bisa menatap nanar dan menunggu menit demi menit, apakah mereka akan memperoleh hak-nya untuk duduk si courtesy seat?. Kemana pula 'petugas' yang biasanya full service mencarikan kursi buat orang2 spesial? mendadak pagi itu tak nampak batang hidungnya. Atau mungkin ada, cuma pura2 ga tau?
Sampai beberapa stasiun berlalu, tak ada yang peduli dengan rombongan kecil itu. Dua orang wanita -yang kebetulan mereka berdiri di seberangku - cuma bisa menggerutu ...'kok disana ga ada yang kasih mereka duduk sih?"
Hingga kereta pun penuh dengan penumpang2 yang baru naik di stasiun berikutnya, dan saya pun ga bisa lagi melihat dengan jelas, apakah 'rombongan kecil' itu masih berdiri dan ngampar di lantai.
Sebenarnya kejadian seperti itu bukan yang pertama buatku. Dulu, semasa Kereta Pakuan masih eksis. Saya pernah melihat perlakuan 'diskriminasi' seperti itu. Saat pulang kantor, seorang ibu bersama 3 anaknya yang balita, ngampar di lantai tepat didepan courtesy seat- yang sialnya diduduki oleh beberapa pria muda pegawai sebuah instansi. Ibu dan balita itu, saya kenal betul, kadang - suka berjualan di stasiun Juanda, kadang pula si balita meminta2. Namun kali ini, kulihat sang ibu menyodorkan tiket kepada petugas karcis, it means mereka punya hak sama dengan penumpang lainnya bukan?
Sayangnya, dari Stasiun Juanda sampai stasiun Bojong, selamat! tak ada satupun yang mempersilahkan sang ibu dan balitanya duduk di bangku khusus.
Sayangnya, dari Stasiun Juanda sampai stasiun Bojong, selamat! tak ada satupun yang mempersilahkan sang ibu dan balitanya duduk di bangku khusus.
Satu pelajaran yang kudapat di kereta: Ternyata masyarakat kita masih memandang seseorang dari penampilan!
Thursday, April 12, 2012
Sengsara Membawa Nikmat...
Hah, Siapa yang bilang? saya! saya yang bilang barusan!
Mengutip judul novel karangan Sutan Sati, saat ini saya membenarkan judul novel itu.
Mengutip judul novel karangan Sutan Sati, saat ini saya membenarkan judul novel itu.
Jujur saja: saya belum pernah baca novelnya. Pun, saya belum pernah nonton sinetron yang tayang pada tahun 1991 itu. Saya cuma tau, tokoh utamanya 'si Midun' diperankan oleh Sandy Nayoan. Saya masih ingat, tahun segitu Sandy Nayoan lagi imut-imutnya. Begitu pula saya! Sedang manis-manisnya dan 'berjaye'! hehe..
Balik ke judul: kenapa saya berani bilang 'Sengsara membawa Nikmat' (harap ucapkan 3 kata ini dengan terpatah-patah dan mendayu bak baca puisi! Dijamin semakin nikmat.) ?
Karena saya merasa, pada saat kita 'sengsara' kita baru menyadari bahwa apa yang selama ini kita dapat (saat tidak sengsara) ternyata 'luar biasa". Pendeknya, kita jadi banyak bersyukur.
Seperti saat jaman mahasiswa dulu: kalo tanggal muda, saat uang di dompet masih penuh, rasanya makan pun milih-milih. Suka rada-rada manja gitu! Beli nasi di warteg? males. Pengennya sekelas resto siap saji!
Tapi pas menjelang tanggal tua. Saat dompet mulai kempes dan bala bantuan tak kunjung datang. Maka dengan modal uang Rp3000,- beli makan di warteg dengan menu nasi, tahu/tempe dan sambal, kok rasanya makan begitu nikmatttt......banget!
Terus, saat mobil di rumah mogok dan kita terpaksa kudu jalan kaki atau naik angkutan umum. Kita dilatih bersabar duduk manis di angkot yang ngetem-nya berjam-jam. Atau seperti kemarin, saya yang biasanya pulang-pergi kantor bareng suami, terpaksa harus kembali ke KRL karena suami lagi dinas daerah. Saya pun kembali harus berlari-lari saat pagi buta, rebutan naik gerbong, dan umpel-umpelan dalam kereta.
Saya berusaha menikmati. Karena, meski sengsara (nafas sesak, kaki pegal, badan remuk) tapi saya (dan juga penumpang lain pada umumnya) berusaha menjadikan 'derita' itu sebagai hiburan semata (kebetulan saya berada di gerbong perempuan). Hingga tak heran, saat kereta berhenti, dan badan kami limbung ke satu sisi, kami malah tertawa.
So, benarkan kalo Sengsara itu membawa nikmat? karena saat sengsara begitu, kita jadi bisa bilang 'oh..ternyata begini ya rasanya susah!',...'oh begini ya, rasanya ga punya uang'...'oh..begini ternyata bla-bla-bla....." dst. Intinya, kita jadi lebih menikmati apa yang selama ini Tuhan beri. Selain itu, tanpa disadari, empati kita terhadap mereka yang hidup kekurangan jadi muncul.
Anyway, Itu semua menurutku. Entah, apakah orang lain pun demikian?
Terakhir, saya jadi pengen nonton sinetron yang dibintangi Sandy Nayoan itu. Apakah isi film itu sama seperti pandanganku di atas?
Karena saya merasa, pada saat kita 'sengsara' kita baru menyadari bahwa apa yang selama ini kita dapat (saat tidak sengsara) ternyata 'luar biasa". Pendeknya, kita jadi banyak bersyukur.
Seperti saat jaman mahasiswa dulu: kalo tanggal muda, saat uang di dompet masih penuh, rasanya makan pun milih-milih. Suka rada-rada manja gitu! Beli nasi di warteg? males. Pengennya sekelas resto siap saji!
Tapi pas menjelang tanggal tua. Saat dompet mulai kempes dan bala bantuan tak kunjung datang. Maka dengan modal uang Rp3000,- beli makan di warteg dengan menu nasi, tahu/tempe dan sambal, kok rasanya makan begitu nikmatttt......banget!
Terus, saat mobil di rumah mogok dan kita terpaksa kudu jalan kaki atau naik angkutan umum. Kita dilatih bersabar duduk manis di angkot yang ngetem-nya berjam-jam. Atau seperti kemarin, saya yang biasanya pulang-pergi kantor bareng suami, terpaksa harus kembali ke KRL karena suami lagi dinas daerah. Saya pun kembali harus berlari-lari saat pagi buta, rebutan naik gerbong, dan umpel-umpelan dalam kereta.
Saya berusaha menikmati. Karena, meski sengsara (nafas sesak, kaki pegal, badan remuk) tapi saya (dan juga penumpang lain pada umumnya) berusaha menjadikan 'derita' itu sebagai hiburan semata (kebetulan saya berada di gerbong perempuan). Hingga tak heran, saat kereta berhenti, dan badan kami limbung ke satu sisi, kami malah tertawa.
So, benarkan kalo Sengsara itu membawa nikmat? karena saat sengsara begitu, kita jadi bisa bilang 'oh..ternyata begini ya rasanya susah!',...'oh begini ya, rasanya ga punya uang'...'oh..begini ternyata bla-bla-bla....." dst. Intinya, kita jadi lebih menikmati apa yang selama ini Tuhan beri. Selain itu, tanpa disadari, empati kita terhadap mereka yang hidup kekurangan jadi muncul.
Anyway, Itu semua menurutku. Entah, apakah orang lain pun demikian?
Terakhir, saya jadi pengen nonton sinetron yang dibintangi Sandy Nayoan itu. Apakah isi film itu sama seperti pandanganku di atas?
Tuesday, February 28, 2012
Health is the most precious gift!
Apakah yang paling berharga dalam hidup ini? Kesehatan! Ya. Kesehatan adalah karunia Allah SWT yang tiada duanya.
Apalah artinya harta berlimpah: mobil berderet, tanah berhektar-hektar, emas batangan berkuintal-kuintal, rumah menjulang ke langit, kalo si empunya yang punya harta itu sakit? sungguh harta itu ga bisa dia nikmati! Boro-boro dinikmati, dilirik pun udah males. Lemes, ga berdaya, ga berguna.
Dua minggu lalu saya sekeluarga kena 'ujian' dan 'cobaan' yaitu Sakit. Saya bilang begitu, karena saya merasa 'sakit' itu bukan musibah, tapi cuma 'ujian' dari Yang Kuasa, kira2 kita sabar tidak menghadapi rasa sakit itu?
Sabarkah saya? jujur pada mulanya sedikit menggugat: kok sakit bisa susul menyusul gini? beruntun dari satu orang ke yang lain? rasanya baru saja menghela nafas karena yang satu baru sembuh, eh...yang lain malah baru mulai sakit. Penyakit bagaikan pingpong di rumah saya. Mantul kesana kemari.
Tapi 'gugatan' saya ga lama. Sepertinya "ujian" itu mendewasakan saya. Apalagi pas di RS tempat dimana Jasmine dirawat karena kena Typus skala 4, tanpa sengaja kamar yang Jasmine tempati adalah kamar yang sama tempat Almarhum kakak saya dirawat sampai meninggal. Entah kenapa, cuma kamar ini satu-satunya yang tersisa di RS itu. Yang lain Full: dari kelas III sampe kelas VVIP. Laris manis RS ini!
Saya masih ingat, di kamar itu, suami kakak dengan penuh kesabaran, tanpa banyak mengeluh, menjalani hari-harinya mendampingi kakak saya selama hampir sebulan. Sementara sebelumnya, kakak saya juga dirawat di rumah selama setahun lebih dalam kondisi koma. Bayangkan: koma setahun lebih! Siapa pula yang bisa bersabar menghadapi kondisi demikian? luar biasa suami kakak saya itu!
Maka, pantaskah jika sekarang saya - yang cuma dikasih 'ujian' sakit flu-demam doank - mengeluh? Tidak pantas! Masih banyak orang yang diberi 'ujian/cobaan' lebih berat dari saya, tapi mereka tetap bersabar.
Dan ternyata kesabaran itu berbuah manis! Alhamdulilah sekarang semua sudah sehat. Jasmine -setelah 5 hari dirawat- sekarang sudah ceria dan bawel kembali! Sementara yang lain, sudah kembali beraktifitas seperti biasanya. Hidup kembali berjalan.
Kesehatan memang segalanya. Sehat membuat hidup sedemikian indah.
Meski harta tak seberapa dan tak berlimpah, tapi karena Sehat, hidup jadi begitu berharga!
Monday, November 21, 2011
Ingat Sehat Sebelum Sakit..
Jumat minggu lalu, entah kenapa mendadak perut ini mules bukan kepalang. Untungnya (masih untung!) kerasa pas kereta tiba di Gambir. Sampai Gambir, saya lari terbirit-birit naik metromini, kejar absen terus kelar absen langsung masuk toilet. Tak perlulah kuceritakan apa kelanjutannya. Yang jelas, ternyata bukan diare!
Rasa sakit itu berlanjut hingga hari ini (Senin). Saya baru ke dokter hari minggu pagi. Kebetulan tetanggaku dokter, dia bersedia periksa pasien meski hari libur. Sungguh dokter cantik yang baik dan ramah. Jarang-jarang loh dokter kayak gini! Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan bagi Bu dokter, supaya beliau bisa terus mengabdi pada masyarakat. Amiin.
Kata Bu dokter, kemungkinan ada makanan yang rada 'ga beres' kumakan pada hari Jumat itu. Tapi kuingat-ingat kayaknya ga ada yang aneh!. Apapun penyebabnya, satu hal yang kurasa: betapa tidak enaknya sakit! rasanya diri ini tak berdaya. Mau beraktifitas, beres-beres rumah, ngurus anak, nyiapin makan buat suami, sungguh lemah dan tak berdaya.
Mendadak saya jadi ingat saat sehat. Betapa terkadang kita tidak mensyukuri dan menikmati hidup kala diri kita sehat. Saat sehat kadang saya suka males-malesan mau beresin rumah. Ogah-ogahan nyiapin sarapan buat suami. Sekarang, pas sakit, perasaan pengeeeennn banget melakukan semua itu! Ya Allah... nikmat manalagi yang telah kudustakan? Sehat itu adalah nikmat dan anugerah tak terhingga darimu. Mohon sehatkan lah aku! agar aku bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat yang telah kutunda akibat kebodohanku.
Thursday, November 10, 2011
Bersyukur
Apakah yang membuat kita mengucap syukur? umumnya karena mendadak dapat rizki saat kantong lagi kosong, atau saat kita selamat dari suatu bencana. Tapi kalo bersyukur hanya karena dua hal itu saja sepertinya bakal jarang-jarang kita ucapkan syukur. Bersyukur dalam segala suasana memang susah dan kadang lupa, tapi seandainya itu dijalani, rasanya indah dan menyenangkan.
Kemarin pulang kerja, saya naik angkot dan duduk pas belakang sopir. Saya lihat kursi depan samping supir ada seorang bapak dan anak perempuan cilik yang nampak terkantuk-kantuk kelelahan. Si Bapak -sedang menghitung uang recehan- sepertinya hasil mengamen, karena ada gitar disampingnya. Saat itu, saya menduga2, mereka (bapak dan anaknya) pergi mengamen pagi hari dan ini sore mereka baru pulang. Berapakah yang didapat dari hasil mengamen seharian? apakah anak kecil itu sekolah? mungkin seharusnya anak kecil itu sore ini sedang gembira bermain bersama teman-temannya sehabis pulang sekolah.
Lama menatap mereka, mendadak saya jadi membayangkan, seandainya si bapak itu adalah suami saya, anak kecil itu adalah Yasser (karena sepertinya sebaya Yasser- 7 tahun-an), dan saya- ibunya- menunggu di rumah menjaga anak saya yang lain. Sebagai ibu, saat itu mungkin saya selalu berharap2 cemas: bagaimanakah suami dan anak saya? apakah mereka diusir petugas PT KAI karena dilarang mengamen di kereta? berapakah uang yang didapat suami dari mengamen? cukupkah untuk makan anak2 hari ini? terus buat sekolah? ah.....itu perlu cari usaha lain.
Melihat Bapak dan anak itu serta membayangkan saya adalah bagian mereka, mendorong saya mengucap syukur tiada henti. Syukur karena Allah SWT telah memberi rizki yang cukup, kehidupan yang layak, dan anak-anak bisa sekolah dengan tenang. Anak-anak tidak perlu ikut bekerja dan ikut merasakan betapa capeknya mencari uang.
Sungguh indah bersyukur. Dan rupanya, untuk selalu bersyukur atas segala yang Alloh berikan, kita harus sering-sering melihat ke bawah.
Lama menatap mereka, mendadak saya jadi membayangkan, seandainya si bapak itu adalah suami saya, anak kecil itu adalah Yasser (karena sepertinya sebaya Yasser- 7 tahun-an), dan saya- ibunya- menunggu di rumah menjaga anak saya yang lain. Sebagai ibu, saat itu mungkin saya selalu berharap2 cemas: bagaimanakah suami dan anak saya? apakah mereka diusir petugas PT KAI karena dilarang mengamen di kereta? berapakah uang yang didapat suami dari mengamen? cukupkah untuk makan anak2 hari ini? terus buat sekolah? ah.....itu perlu cari usaha lain.
Melihat Bapak dan anak itu serta membayangkan saya adalah bagian mereka, mendorong saya mengucap syukur tiada henti. Syukur karena Allah SWT telah memberi rizki yang cukup, kehidupan yang layak, dan anak-anak bisa sekolah dengan tenang. Anak-anak tidak perlu ikut bekerja dan ikut merasakan betapa capeknya mencari uang.
Sungguh indah bersyukur. Dan rupanya, untuk selalu bersyukur atas segala yang Alloh berikan, kita harus sering-sering melihat ke bawah.
Thursday, October 20, 2011
Negara Para Jahanam
| source: www.shanghaiist.com |
Mungkin orang menilai judul di atas terlalu sadis, menuduh dan subyektif. Tapi itu adalah ungkapan kemarahan saya yang terdalam, karena saya tidak bisa lagi mengungkapkannya dengan kata-kata lain yang kasar. Ungkapan itulah yang pantas disematkan pada penduduk Fosan, China yang tidak berperikemanusiaan.
Teman, bila anda mengikuti berita akhir-akhir ini (baik di TV maupun di internet) pasti anda tahu berita tentang seorang balita usia 2 tahun yang ditabrak lari 2x dan dibiarkan tergeletak di tengah jalan di kota Foshan, China, tanpa ada seorangpun tergerak hati untuk menolong selama beberapa menit berlalu (hingga datang seorang perempuan pemulung yang menolongnya). Pertama kali rekan kantor yang menunjukan ke saya di Youtube. Saat itu saya dengan santainya menonton video itu dan bilang bahwa video itu rekayasa alias bohong belaka. Kenapa saya bilang bohong? karena saya tidak yakin, masa ada anak kecil tertabrak berdarah-darah sementara orang-orang di sekitarnya lalu-lalang seperti tiada apa-apa? Nonsense, impossible!! Tidak mungkin ada manusia-manusia seperti itu! Teman saya sampai susah meyakinkan saya bahwa video itu benar dan nyata!
Karena penasaran, saya searching di internet dan di TV...dan ternyata kejadian itu memang benar! Saya langsung nangis, marah , stress, jadi satu!! sampai saat ini masih terbayang kejadian di video itu yang dengan 'jelas' memperlihatkan tragedi menyedihkan di suatu negara kaya (harta) tapi miskin (hati). Belakangan saya menyesal menonton video itu secara detail sampai tuntas! video itu menghantui saya. Padahal jelas-jelas di awal video terdapat kalimat peringatan bahwa menonton video ini bakal bikin stress dan muntah, kalo ga kuat mending jangan nonton!
Saya, teman-teman dan mungkin semua yang melihat video itu sungguh tak habis pikir, di luar akal sehat, bagaimana mungkin orang-orang berlalu-lalang dengan cueknya, tidak peduli ada seorang balita terkapar berdarah-darah di tengah jalan ? dimanakah mata hati mereka? apakah mereka buta? sedemikian parahkah moral bangsa tersebut hingga tidak menghargai nyawa manusia? Ya Alloh...
Meski saya berusaha untuk menutup mata dan berhenti memikirkan video itu, tapi saya tanpa sadar tiap hari membuka salah satu situs yang mengabarkan perkembangan balita itu dari hari ke hari. Entah kenapa, saya berharap balita itu lebih baik mati saja. Daripada hidup tapi menderita dan tumbuh diantara manusia berhati iblis? bukankah bila gadis cilik itu mati, insyalloh Alloh SWT akan menempatkan dia di tempat terindah disisi-Nya?
Semoga saja tragedi memilukan di negara para jahanam itu tidak akan pernah terjadi di negara kita, selama mata dan hati kita masih disinari oleh cahaya iman.
Semoga saja tragedi memilukan di negara para jahanam itu tidak akan pernah terjadi di negara kita, selama mata dan hati kita masih disinari oleh cahaya iman.
Wednesday, October 19, 2011
Puasa Itu Indah
Sebulan lebih telah berlalu, berapa bulan lagi harus kita lalui untuk bertemu kembali Ramadhan tahun nanti? hm...tiada satu pun yang tahu, apakah saya, kamu dan mereka bisa sampai ke saat itu?
Ada yang kurindu dengan suasana Ramadhan: silent is golden (less talk less mistake!), musholla dipenuhi orang mengaji, engga ada asap rokok -baik di kantor maupun di angkutan kota. Lalu, kemana perginya suasana itu? kalau bukan kita yang menghidupkan sendiri, siapa lagi?
Benar bila dikatakan bahwa Puasa itu mendorong orang untuk melakukan ibadah-ibadah lainnya. Berikut buktinya: umumnya orang berpuasa lemas, malas bicara, akhirnya terhindar dari menggosip orang lain. Lantas karena malas bicara, orang berpuasa cenderung larinya ke baca buku (sebagian ada sih yang waktunya dihabiskan dengan tidur, tapi ini pun tetap dinilai positif daripada menggosip!). Bila baca buku, tentunya yang dibaca adalah buku-buku yang bermanfaat (bukan stensilan). Lebih bagus lagi bila itu buku agama dan baca Al-Qur'an, utamanya.
Kemudian, orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh, umumnya terdorong untuk bersedekah - memberi sesuatu pada orang yang tak mampu (karena kita merasa lemah sama seperti mereka). Ibadah juga bukan? Jadi, tak salah bila dikatakan bahwa Puasa itu indah...karena darinya menghasilkan banyak nilai positif.
Berbeda dengan ibadah lainnya: sholat, sedekah, maupun haji, maka Puasa itu ibadah yang tak nampak. Hanya orang yang berpuasa dan Tuhan yang tahu! Orang lain tidak akan tahu kita berpuasa atau tidak (kecuali saat diajak makan terus kita menolak dan bilang sedang puasa). Sungguh, kerahasiaan ibadah puasa itulah, yang menjadikannya sangat istimewa di mata Allah SWT!
Lalu, apakah harus menunggu setahun untuk menjadi orang yang istimewa di mata Allah SWT? tentu tidak, Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk melaksanakan ibadah istimewa itu selain di bulan Ramadhan. Ada puasa-puasa Sunah yang nilai amalannya tak kalah dengan puasa Ramadhan. Sungguh Allah maha pemurah...
Lalu, apakah harus menunggu setahun untuk menjadi orang yang istimewa di mata Allah SWT? tentu tidak, Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk melaksanakan ibadah istimewa itu selain di bulan Ramadhan. Ada puasa-puasa Sunah yang nilai amalannya tak kalah dengan puasa Ramadhan. Sungguh Allah maha pemurah...
Wednesday, October 5, 2011
Indahnya sebuah doa...
Tuhanku,Acapkali nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku,
sedikit sekali aku berterima kasih kepada-Mu.
Dan setiap bencana yang Engkau timpakan kepadaku (sebagai cobaan), kesabaranku kepada-Mu (akan rahmat),
sangat sedikit ketika menghadapinya.
Wahai yang menerima rasa syukur yang sedikit atas nikmat yang dianugerahkan-Nya,
Dia tidak mencegahku (untuk memperoleh nikmat-Nya)
Wahai yang menerima kesabaran yang sedikit terhadap bencana yang diturunkan-Nya,
Dia tidak menelantarkanku.
Wahai yang melihatku dalam maksiatku,
Dia tidak mengungkapkannya (di hadapan mahluk yang lain)
Wahai yang melihatku dalam kesalahan-kesalahan,
Dia tidak (segera) menghukumku atas kesalahan itu.
Sungguh Engkau Maha Penyayang, Maha Mulia, dan Maha Kuasa atas segalanya...
catatan:
Dikutip dari Doa penyembuh sakit. Merupakan salah satu doa yang kusuka, karena memiliki kalimat yang indah dan bermakna..
Monday, August 8, 2011
Belajar Dari Kematian
Judul posting kali ini agak nyeremin ya? saya cuma ingin sekedar sharing. Sepertinya bulan Ramadhan gini saat yang tepat untuk merenung. Kebetulan beberapa tahun terakhir saya dikelilingi oleh berita kematian orang-orang terdekat. Dimulai dari kematian kakak tertua, disusul 3 bulan kemudian suaminya. Terus minggu lalu rekan kantor, disusul kemudian Jumat lalu Sodara ipar kakak saya. Kematian memang hal yang biasa, tiada hari tanpa kematian. Namun demikian, tetap saja jika itu menimpa orang terdekat disekitar kita, hal biasa itu menjadi ‘luar biasa’. Rasa sedih, kaget, merasa kehilangan luar biasa pasti ada. Apalagi bila kematian itu datangnya tiba-tiba. Dalam arti, orang yang tadinya sehat-sehat saja tiba-tiba meninggal. Entah itu karena serangan jantung mendadak atau kecelakaan.
Saat kakak tertua saya meninggal, kami semua sedih tapi kami jauh-jauh hari sudah siap dengan kemungkinan itu, karena kakak saya memang sudah hampir 3 tahun sakit dan sebagian waktunya dalam kondisi tak sadar. Namun, saat suaminya meninggal tiga bulan kemudian karena serangan jantung, kami benar-benar kaget dan luar biasa merasa kehilangan. Tak percaya beliau meninggal. Rasanya baru kemarin beliau datang ke rumahku sambil senyum-senyum seperti biasa. Demikian pula saat sodara ipar kakak meninggal Jumat lalu. Kami semua tak percaya, terutama kakakku dan suaminya. Rasanya baru seminggu lalu dia hadir di rumah ikut pengajian, terus bersenda gurau seperti biasa. Mendadak Jumat sore meninggal karena kecelakaan mobil di jalan tol sepulang dari tempat kerja.
Dari semua kejadian itu, saya sadar : ternyata begitu tipis batas antara kehidupan dan kematian. Jika pagi kamu sehat, mana tau nanti sore jatuh sakit? Bila detik ini kita dan rekan-rekan bisa tertawa-tawa dan bercanda, siapa yang tau sedetik kemudian kita larut dalam tangis duka karena kehilangan salah satu dari kita?
Ada 2 hal yang bisa dipetik pelajaran dari kematian : PERTAMA Jangan menunda untuk berbuat baik pada orang. Poin ini berdasarkan pengalaman kakakku. Saat suami kakak tertuaku meninggal mendadak, diantara kami, dia yang paling sedih dan sering nangis. Dia bilang, dia menyesal karena sudah bersikap ketus dan judes pada almahrum pada saat-saat terakhir sebelum meninggal. Katanya, almarhum –entah kenapa – jadi rajin sambangi kantornya sekedar untuk bertegur sapa atau ngajak makan siang (mereka satu kantor) dan saat itu ditanggapi kakakku dengan ketus. Kalo saja dia tau beliau bakal meninggal, tentunya dia akan bersikap ramah pada almarhum! Penyesalan memang selalu datang kemudian. KEDUA Segerakan beribadah. Jika ada yang bilang bahwa beribadah itu digiatkan saat usia tua, sedangkan usia muda saatnya senang-senang, sungguh salah! Apakah kita yakin bahwa kematian akan datang saat tua? Kematian bisa datang kapan saja. Bahkan bayi baru lahir pun bisa mati. Jika kita menunda-nunda untuk sholat dan lebih memilih untuk bereskan dulu kerjaan, apakah yakin bakal selesai? Bagaimana bila mendadak kita kesetrum kabel computer saat ngerjain tugas kemudian langsung goodbye?. Mengenai nunda-nunda waktu sholat ini, jujur saya masih sering melakukannya. Terutama saat pulang kerja. Di mobil, kami dengar suara azan magrib dan bulan Ramadhan gini pas adzan kami tentu segerakan buka puasa. Tapi sholatnya? Kami memilih nanti sholat bila sudah sampai rumah! Bayangkan, jika ternyata Tuhan menggariskan bahwa mobil kami tidak pernah sampai ke rumah? Sungguh kami akan menyesal sampai mati! Mungkin kami hanya bisa meratapi dan bila Tuhan mengizinkan, kami mohon agar waktu bisa diputar ulang...
Lalu, apakah kematian itu menakutkan? Bagi saya – YA- karena saya belum siap. Ibadah saya masih bolong-bolong dan saya masih suka berbuat jahat pada orang. Tapi siapa yang bisa menghindar dari kematian? Sekalipun kita sudah sedemikian hati-hati dalam beraktifitas guna menghindari kematian, dia tetap akan datang juga.
Tentang Mati, ingatlah selalu pesan Nabi : Jangan takut mati karena pasti terjadi. Semua insan pasti mati, hanya soal waktu! Sekarang, besok, lusa atau yang akan datang. Maka persiapkan diri anda sebaik-baiknya. Segeralah, jangan ditunda!
Tentang Mati, ingatlah selalu pesan Nabi : Jangan takut mati karena pasti terjadi. Semua insan pasti mati, hanya soal waktu! Sekarang, besok, lusa atau yang akan datang. Maka persiapkan diri anda sebaik-baiknya. Segeralah, jangan ditunda!
Subscribe to:
Posts (Atom)






