Showing posts with label cerita harian. Show all posts
Showing posts with label cerita harian. Show all posts

Monday, July 11, 2016

Passing Grade Almost Make Me 'Passed Away' (I)


Ramadhan kemarin benar-benar Ramadhan yang penuh kesan buat saya. Selain disibukan dengan ibadah, saya juga disibukan dengan sekolah anak-anak. Ya, ketiga anakku berbarengan keluar-masuk sekolah. Si sulung keluar SMP, si tengah keluar SD, dan yang cilik keluar TK. Ampun...benar2 diluar perkiraan saya. Dulu pas hamil saya ga pake planning apa2, misal jarak antar anak harus sekian-sekian supaya pas sekolah ga repot. Saya sih mengalir begitu saja. 
Dan sekarang, baru terasa efeknya kalo beranak tanpa rencana..heheh.

Tentu yang terasa repotnya, saat kedua anak lelakiku menempuh UN dan berjuang masuk sekolah pilihan dengan sistem online. Saat UN, cuma pas Yasser (anak kedua) saya bela-belain cuti kerja. Karena anakku satu ini, tipe yang super santai. Kalo belajar engga dipantengin ibunya, maka dia milih main game di laptop.

Saat pembagian hasil UN, saya tadinya berharap banyak pada si sulung (Yassin). Saya harap dia dapat nilai maksimal hingga bisa masuk sekolah negeri favorit di Bogor. Saya sempet agak sedikit kecewa saat penerimaan hasil UN-nya, namun kekecewaan saya tidak lama. Saat anak saya melihat hasil UN-nya yang berada di tangan saya dan dia langsung mengucapkan alhamdulilah, saat itu juga saya sadar bahwa anak saya sudah berusaha keras dengan UN-nya. Dan mungkin saat itu dia sendiri ragu bakal dapat nilai segitu. Mungkin estimasi dia jauh dibawah itu.

Lalu, saat penerimaan hasil UN Yasser, suamiku lebih lucu lagi. Pertama dia senang banget saat melihat hasil UN putra keduanya - yang terkenal males belajar- tapi bisa memperoleh nilai sama dengan nilai UN kakaknya dulu.  Dulu, Yassin, dengan nilai yang sama dengan Yasser sekarang, sebenarnya bisa masuk SMP negeri favorit di Bogor, tapi saat itu dia malah milih SMPnya sekarang yang rankingnya ketiga di Bogor. Nah, berbekal nilai Yassin itu, suamiku pun yakin bahwa Yasser pun bisa masuk SMP favorit no 1. Tapi suka cita suamiku tak lama, saat dia melihat lampiran daftar nilai UN teman2nya Yasser yang gila2an (=tinggi). Kok nilai anakku jadi terlihat kecil yo? gumam suami. Padahal mata pelajaran yang diujikan sama 3 biji, dan nilai2nya pun kalo dibagi 3 rata-ratanya jadi 9. Tapi kenapa nilai itu tetep terlihat kecil ? oh...berarti jaman Yassin dulu nilai UN lebih kecil2 kali ya? anak-anak jaman Yasser sekarang berarti lebih pintar2 dan nilai UN nya tinggi2. 

Ketar-ketir lihat hasil UN berlanjut saat mulai pendaftaran online. Saya sedikit tenang setelah tau kalo Yassin maupun Yasser didaftarkan via sekolah masing-masing. Saya sendiri belum berpengalaman daftar sekolah sistem online. 
Namun ketenangan saya tidak lama, saat nama anak saya mulai muncul di situs PPDB dan di sekolah yang dituju. Oiya, khusus Yassin, karena dia yang pertama daftar online, saya serius bukan main. Sebelum pilih sekolah, saya sibuk browsing tentang itung-itungan passing grade SMA. Semua blog dan situs yang bahas passing grade saya lahap. Termasuk mencoba terapkan itung2an para pakar bagaimana menentukan passing grade dan mana kira2 sekolah yang passing grade-nya pas dengan nilai UN anak kita. 
Hasil dari browsing saya itu, dicetuskan dengan ide pemilihan SMA untuk Yassin yang -menurut saya- passing gradenya bakal sesuai dengan nilai UN dia. 
Lalu, bagaimana hasilnya? cuma beberapa menit setelah nama anak saya muncul di SMA pilihan I, menit berikutnya namanya sudah tak ada, alias terdepak ke SMA pilihan ke II. Ya Allah...padahal itu hari kedua pendaftaran- means masih ada sehari besok yang memungkinkan posisi anak saya tidak aman di pilihan ke II-nya. Saya bener2 menyesal setengah mati. Gara-gara itung-itungan passing grade abal-abal saya maka posisi anak saya jadi tidak aman. Padahal anak saya sedari awal (sebelum ide itung-itungan saya muncul) pengennya daftar di sekolah yang jadi pilihan ke II sekarang adalah pilihan I karena dia sudah merasa ga aman. Hanya ego saya yang pengen dia mencoba ke sekolah yang gradenya lebih tinggi. 
Hari terakhir ppdb online menjadi hari kiamat buat saya. Mengamati pergerakan passing grade di sekolah pilihan terakhir anak saya, bener2 nyaris bikin saya passed away. Itu istilah saya untuk menyebut Mati Gaya!. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Jantung saya berdetak cepat tiap kali buka situs ppdb. Saya adalah orang yang paling  bersalah kalo sampe anak saya terdepak dari pilihan II.
Berbekal rasa 'bersalah' itu, maka pada hari terakhir pendaftaran tersebut, tepat pada jam 12.00 begitu melihat posisi anak saya sudah tidak aman- saya langsung mengambil keputusan mendaftarkan Yassin ke sekolah swasta yang -katanya- bagus di Bogor. Kebetulan sekolah itu membuka pendaftaran gelombang ketiga (terakhir) pada hari itu juga. Saya-tanpa minta persetujuan Yassin bahkan suami- langsung siapkan berkas2 dan daftar ke sekolah tersebut. Dilalah...ternyata saat itu juga calon siswa pendaftar harus mengikuti serangkaian test, padahal Yassin tidak bersama saya dan sedang bersama teman-temannya menanti detik2 terakhir ppdb online di SMP nya. Saya langsung telpon dan minta dia segera pulang untuk test di sekolah swasta. Tadinya dia menolak keras, tapi setelah saya paksa akhirnya dia pulang dan ikut dengan saya ke sekolah swasta. Tentunya dengan muka cemberut dan males2an.

Ini yang bikin saya sedih dan  malu hati : saat test kesehatan dan wawancara, anak sulungku yang dari awal sudah  ga mood dan ekspresi mukanya tidak mengenakkan, membuat sang pewawancara dan petugas test kesehatan manggil aku ibunya. Saat di ruang test tanpa kehadiran Yassin, pewawancara langsung bilang "dia daftar kesini atas keinginan ibu ya? " dan si petugas kesehatan juga bilang "keliatan dia lagi bete ya bu?". Saya tak tahan dan langsung jujur bilang kalo anakkku sebenarnya berharap masuk sekolah negeri pilihannya, dan saat saya daftar kesini sebenarnya dia bersama teman2nya sedang menanti detik2 terakhir pendaftaran online- yang akan menentukan aman-tidaknya posisi dia di sekolah pilihan ke II tadi. Untungnya petugas wawancara di sekolah itu mengerti dan kebetulan mereka pun sedang mengamati pergerakan ppdb online juga saat itu. Mereka bilang bahwa hasil test sekolah swasta ini keluar besok, bertepatan dengan hasil penerimaan PPDB. Saya benar2 dibikin double ketar-ketir, pertama: khawatir anak saya benar2 terdepak dari SMA negeri, kedua: anak saya tidak diterima di sekolah swasta ini karena jawaban jujur saya tadi. hiiks.

Saat perjalanan pulang dari sekolah swasta itu, waktu telah menunjukan pukul 15.00 WIB. Yassin yang dari tadi tidak lepas mengamati ppdb online dari hp-nya langsung berseru kalo tabel pendaftar di sekolah pilihannya sudah tidak bergerak lagi. Ppdb online telah resmi ditutup. Anakku yang saat itu pada posisi 193 dari 200 siswa yang diterima, artinya secara tidak langsung sudah diterima di SMA pilihan II tadi. Saya dan Yassin langsung mengucap syukur. Saya usap kepalanya sambil bilang selamat untuknya. Diantara kami, sepertinya saya yang paling lega: karena selamat dari kekecewaannya. Akibat salah dalam itung-itungan passing grade yang nyaris membuat kami salah pilih sekolah.


Tuesday, November 24, 2015

Sumber Energi Itu Bernama Anak


Guess what? semalam entah kesambet apa, saya bikin baju boneka barbie buat anak bungsu saya sampe jam 24.30 WIB. 

Berawal dari rengekan Jasmine yang minta dibuatkan baju boneka barbienya, soalnya boneka barbienya (barbie-barbie-an loh! Harganya murah, cuma 45 ribu perak  xdd ) bajunya cuma satu doank yang dipake. Itupun bahannya dari kertas minyak. Benar-benar minimalis.
Maka saya- yang super duper ga bisa dan ga bakat jahit menjahit - mendadak berusaha memenuhi rengekan sang buah hati. Daripada nanti dia minta saya beli baju2 barbie di toko? **emakpelit**

Di kantor saya minta tolong mbah google untuk cari tips bikin pola baju barbie, tips menjahitnya serta model-model bajunya  (gaya benerr...kayak yang bisa jahit aja!). Trus saya juga tak lupa bertandang ke tukang jahit pasar sebelah kantor untuk minta kain-kain bekas. Lumayan, dengan 10 ribu perak dapet sekantong kresek kecil.

Begitu sampe rumah, dengan ditemani Jasmine yang begitu antusias dan surprised (karena mamanya ga biasanya begitu cepat merespon rengekannya?), saya mulai membongkar bawaan. Mumpung lagi semangat, di lantai saya kumpulkan bahan-bahan yang diperlukan:

- sekantong kresek kain bekas
- benang 4 warna, jarum pentul, dan gunting
- kertas hvs putih
- bollpoint, penggaris dan meteran gulung
- Jangan lupa boneka barbie-nya buat ukuran baju.

Pertama saya ambil kertas, rencananya mau bikin pola baju. Tapi setelah ukur sana sini si boneka, trus srat - sret gambar pola di kertas. Sejurus kemudian, kertas dan gambar pola yang ga jelas tadi langsung saya tinggalkan. Hopeless? Gak! Ngapain pusing2 bikin pola. Saya ambil saja baju barbie yang sudah jadi, trus copy ukurannya ke kertas. Lantas potong kertas itu dan tempel pake jarum pentul ke kain. Gunting. Beres!
Sekarang tinggal jahit nih. Saya jahit pake tangan dengan tehnik jelujur. Bukan karena paling sederhana dan mudah, tapi emang cuma teknik itu yang saya bisa. Tapi yah...mudah lepas juga sih jahitannya. Ga apa2 deh. Namanya juga pemula.

Oiya, pada model baju pertama, saya niru model baju di blog INI . Tapi karena saya lihat model ini aslinya terlalu sederhana banget, akhirnya saya tambahkan bisban biru di leher dan di pinggangnya, trus saya juga bikinkan roknya dari bahan sama pake variasi bisban juga. And you know what? bisban itu sebetulnya tali name tag suami yang udah ga kepake, hahaha.

model kimono pake rok

name tag setelah dibantai!

Terus, pada model baju kedua, roknya saya copy dari model rok barbie yang udah ada. Pas atasan saya tempelkan sedikit kain berpayet- kayaknya sisa kebaya. Kujahit asal begitu saja. Sebagai pemanis kutambahkan pita bekas parcel lebaran di bagian pinggang (sebetulnya fungsi utama pita itu buat mengencangkan bagian pinggang yang kedodoran, mengingat saya blom bisa jahit di pas pinggang). Dan hasilnya? not bad for beginner. And this is really a Real Hand-made. No sewing machine intervention!

pitanya bisa di-variasikan

pita jadi baju

Pagi harinya, pas Jasmine bangun, dengan bangga kuperlihatkan dua baju boneka barbie sederhana hasil kebut semalam (dia cuma bisa menemaniku menjahit sampe jam 21.00).
Dia tersenyum senang. Sejurus kemudian, sambil menimang-nimang bonekanya dia bilang: yuk kita bikin lagi yang banyak Mah, trus kita jual. Uangnya ntar buat beli barbie lagi! Wakkkk.... ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya! *otakbisnis sapa nih?*

Anyway, saya yang tadinya ga bisa menjahit karena males dan ga ada bakat,  dengan semangat 45 bisa menjahit 2 baju boneka barbie dalam semalam. Karena apa? karena rengekan Jasmine.
Ternyata, anak bisa menjadi sumber energi kita untuk beraktivitas dan berkreasi.



Wednesday, November 18, 2015

Inilah Mimpi-Mimpiku di Masa Lalu

Kutepati janji, slalu mengantarnya ke sekolah

Entah kenapa, tadi pas buka blog ini, saya iseng membuka postingan lama saya. Penasaran sejauh mana perkembangan cara bertutur saya di blog ini. Dari mulai bergaya anak gaul di awal-awal blog berdiri (yang bikin malu hati), hingga sekarang gaya bertutur saya yang sok bijaksana - bijaksini. 
Nah, diantara sekian postingan lama, saya baca postingan saya yang judulnya Berpacu Dengan Waktu.  Inti postingan itu adalah keluh kesah saya atas aktivitas rutin pagi hingga malam saat masih bekerja di Jakarta dulu.
Di pagi buta saya harus bergerak cepat ngurus anak2 dulu sebelum berlari mengejar kereta. Trus larut malam saat anak2 sudah tidur, saya baru sampai rumah. Tuhan, sampai kapan itu berakhir? sampe pensiun? Begitu isi keluhan saya di postingan tadi.

And Now, here I am : keluhan saya, jeritan hati saya, dan mimpi-mimpi saya - agar bisa menyiapkan makan dan bekal sekolah anak2, agar bisa mencium kening mereka dan melambaikan tangan saat mereka berangkat sekolah - Telah didengar Allah, Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Sungguh, Allah telah mengabulkan semua mimpi-mimpi saya itu. 

 فَبِأَيِّآلَاءرَبِّكُمَاتُكَذِّبَانِ


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Itulah kutipan ayat dari surat Ar-Rahman yang pas kena buat saya.  Sepertinya saya harus banyak bersyukur, karena Allah telah mengabulkan semua impian saya di masa lalu. 
Jika saat ini saya menghadapi kesulitan atau ada sesuatu hal yang menjengkelkan, baik yang muncul di kantor (Bogor) maupun oleh tingkah anak2 di rumah, itu tak seberapa! Saya harus me-remind myself, bahwa semua  kesulitan dan kekesalan itu lebih baik dibandingkan saat saya masih bekerja di Jakarta dulu. 

Dan bila saya pikir2 kembali, sepertinya tidak hanya mimpi tentang pindah tempat kerja ke Bogor saja yang telah Allah kabulkan. Masih banyak lagi yang lain, yang tidak bisa kusebutkan disini. 
Yang jelas, teruslah bermimpi dan berdoa tiada henti, karena Allah Maha mendengar dan Maha bijaksana. Ingatlah quote Andrea Hirata dalam novelnya Laskar Pelangi : Bermimpilah, Karena Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpimu...


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?




Thursday, November 12, 2015

Kesempatan Kedua

Waktu berlalu begitu cepat, sudah setengah tahun tidak mem-post kan sesuatu di blog ini. Perpaduan antara kurangnya minat menulis dan koneksi internet di kantorku yang sering error hingga menghambat produktifitas blog ini. Dan bila sekarang mendadak ada dorongan untuk menulis lagi, itu karena duka. Duka yang menggiringku kesini.

Kukatakan tahun ini adalah tahun yang mengharu biru bagiku dan keluarga besarku. Kami sedang menghadapi banyak ujian dan cobaan (kami anggap begitu. Rasanya lebih enak daripada disebut 'musibah'). Ujian dan cobaan itu berbentuk segala rupa. Dan setiap kali kami berhasil melaluinya, kami bersyukur luar biasa.
Mungkinkah ini salah satu peringatan dari Allah karena selama ini kami 'kurang' mengucap 'syukur'? mungkin saja. Tapi mungkin juga karena selama ini kami terlalu banyak dinina-bobokan oleh kesenangan, hingga Allah khawatir kami terlena dengan segala kesenangan itu. Sungguh, jika demikian Allah sangat menyayangi kami. Allah tidak ingin kami lupa bagaimana rasanya sedih, susah dan cara menghiba pada-Nya. Bukankah Allah paling suka melihat hamba-Nya banyak berdoa dan meminta ?

Dari sekian banyak ujian, ada satu yang paling membuatku benar2 menangis: ujian sakit yang sedang menimpa kakak tercintaku. Yang membuat kami semakin sedih, kami baru tau setelah anaknya  alias keponakan kami memaksa sang ibu untuk melakukan serangkaian test guna memastikan sejauhmana penyebaran penyakit tersebut. Dan kini hasilnya sungguh mengkhawatirkan.

Kakakku satu itu memang orangnya cenderung pendiam. Dia tidak suka bercerita tentang kehidupannya kepada kami adik-adiknya, termasuk bercerita soal penyakitnya. Mungkin dia tidak ingin kami turut memikirkan penderitaannya disaat kami sendiri sedang banyak ujian/cobaan. Tapi jadi beginilah akhirnya, kami sedih dan menyesal. Kalau saja dia cerita dari dulu, mungkin kami sekeluarga akan berdiskusi guna menentukan apa langkah pengobatan terbaik yang harus diambil.
Ya, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Kata dokter, penyakit itu sudah menyebar hampir keseluruh organ tubuh. Meski demikian, kami tetap berusaha untuk menempuh berbagai proses pengobatan baginya. Kami tak peduli pendapat orang dan ahli kedokteran yang menyatakan bahwa penyakit itu mematikan dan bila sudah mencapai stadium 4 maka akan susah untuk disembuhkan. Kami percaya, jika Allah berkehendak maka segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk kesembuhan kakak-ku.  Yang penting sekarang kami tetap berusaha sambil berdoa. Semoga Allah memberikan kesembuhan bagi kakakku; memberikannya kesempatan kedua untuk hidup menjadi pribadi yang lebih baik, dan Allah memberi kami kesempatan kedua untuk lebih peduli padanya.

Ada satu doa yang sering kubaca selesai sholat Dhuha di sudut mushola kantor. Doa yang jika selama ini aku membacanya tanpa ekspresi, namun entah kenapa setelah datangnya ujian yang menimpa kakakku, kubaca doa ini dengan sepenuh hati diiringi derai airmata. Ingin kuberikan doa ini pada kakakku, agar dia selalu membacanya setiap waktu.


إِلَهِي كُلَّمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ نِعْمَةً قَلَّ لَكَ عِنْدَهَا شُكْرِي, وَكُلَّمَا ابْتَلَيْتَنِي بِبَلِيَّةٍ قَلَّ لَكَ عِنْدَهَا صَبْرِي. فَيَا مَنْ قَلَّ شُكْرِي عِنْدَ نِعَمِهِ فَلَمْ يَحْرِمْنِي, وَيَا مَنْ قَلَّ صَبْرِي عِنْدَ بَلاَئِهِ فَلَمْ يَخْذُلْنِي, وَيَا مَنْ رَآنِي عَلَى الْمَعَاصِي فَلَمْ يَفْضَحْنِي, وَيَا مَنْ رَآنِي عَلَى الْخَطَايَا فَلَمْ يُعَاقِبْنِي عَلَيْهَا, صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَاشْفِنِي مِنْ مَرَضِي, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 


Tuhanku, acapkali nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku, sedikit sekali aku berterima kasih kepada-Mu atas nikmat tersebut.
Dan setiap bencana yang Engkau timpakan kepadaku, kesabaranku kepada-Mu sangat sedikit ketika menghadapinya.
Wahai yang menerima rasa syukur yang sedikit atas nikmat yang di anugerahkan-Nya, Dia tidak mencegahku (untuk tetap memperoleh nikmat-Nya)
Wahai  yang menerima kesabaran yang sedikit terhadap bencana yang diturunkan-Nya, Dia tidak menelantarkanku.
Wahai yang melihatku dalam maksiatku, dan Dia tidak mengungkapkannya (di hadapan mahluk yang lain).
Wahai yang melihatku dalam kesalahan-kesalahan, Dia tidak (segera) menghukumku atas kesalahan-kesalahan tersebut.
Sampaikanlah Salawat kepada Nabi Muhamad SAW dan keluarganya.
Ampunilah dosaku, sembuhkanlah aku dari sakitku.
Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.





Wednesday, April 8, 2015

Film Layak Tonton



'the hobbit' - salah satu film hollywood yang 'bersih''
dari adegan  'ehem-ehem'


Nyaris setahun berlalu. Saatnya bersih-bersih blog. Pas tadi pagi saya buka blog ini, banyak kecoa dan sarang laba-laba dimana-mana. Kasihan nih blog dibikin mangkrak ama pemiliknya. Dikontrakan engga, dijual apalagi (tentunya ga akan laku). Bukan karena sibuk kerja sehingga saya lupa sama blog tercinta ini. Kalo ada waktu luang, saya lebih senang baca berita dan nonton film. 

Ngemeng-ngemeng soal film, di rumah penggemar film bukan hanya saya, tapi juga anak dan suami. 
Biasanya suami suka beli di Cibubur Square Rest Area. Disitu ada toko khusus film dengan kualitas bagus. Saya ga tau itu film bajakan atau bukan *berlagak polos*. Kalau pun bajakan, masa iya toko nya besar dan berderet diantara toko-toko lain dalam mall tersebut? bukan digelar layaknya lapak2 pinggir jalan. 

Kebiasaan suamiku, kalau beli film asal beli saja dan sampai rumah langsung nonton. Engga di-filter apakah itu layak tonton semua umur atau tidak. Padahal anak-anak suka ikut nonton juga. Apalagi kedua anak lelakiku lebih doyan film action, thriller plus horror macam Fast and Furious, Annabelle dibanding nonton Toy Story.

Kalau mereka nonton bareng kami, tentunya kami bisa langsung menjelaskan jika ada adegan yang tidak masuk akal dan terlalu sadis. Terus jika mendadak ada adegan 'nyerempet-nyerempet' maka langsung kupercepat atau langsung kualihkan ke tv. Sayangnya, kami engga bisa full mengawasi mereka. Maka saat saya harus meninggalkan mereka di rumah, buru2 semua film kusimpan seaman mungkin. Tapi trik seperti itu lama-lama capek juga. Akhirnya kukatakan ke suami, sebelum beli film baiknya kami harus tau dulu isi film itu layak buat anak atau tidak?

Sinopsis dan review film banyak bertebaran di blog maupun situs internet. Sayangnya tak semua menceritakan secara detail apakah film itu layak buat anak atau tidak, berapa banyak adegan yang sadis, adegan termehek-mehek dan berapa sering bahasa kasar diucapkan. Sehingga kadang saya terjebak. Kupikir film layak dan aman buat anak, eh ternyata di tengah film nyelip adegan 'seru'. Iiih...kadang saya gemes dengan film produksi hollywood. Kenapa sih slalu saja menyisipkan romance di film? ga bisakah film berjalan lurus2 saja? toh hubungan lelaki dan perempuan ga harus dibumbui kiss-kiss-an atau bahkan sex minded?

Nah, setelah tanpa lelah mencari situs yang menyajikan review film yang bagus, akhirnya pada suatu hari tanpa sengaja menemukan satu situs luar yang sajikan movie review berkualitas. Namanya 'commonsensemedia'. Situs yang punya slogan 'We rate, educate, and advocate for kids, families, and schools' tersebut tidak hanya memberikan review cerita film, tapi juga memberikan poin-poin khusus mulai dari nilai-nilai positif, positif model sampai seberapa banyak bahasa kasar diucapkan. Selain itu, commonsensemedia juga menyajikan review film dari sisi orangtua dan anak. Kadang ada orangtua yang bilang 'tuh film ga bagus buat anak usia sekian, terlalu banyak adegan kekerasan'. Nah terus pas bagian si anak yang review, ditulisnya 'film ini oke-oke saja buat anak seusiaku, saya ga takut meski ada adegan serem'. Aha..dua sudut pandang yang berbeda dari 2 generasi! 

Satu hal penting yang saya suka dari situs ini: review ini dari sudut pandang orang asing loh! secara mereka terkenal gaya hidupnya lebih bebas daripada orang timur. Jadi, kalo mereka kasih komen 'film ini terlalu banyak adegan dewasa dan ucapan kotor' it means tentunya tuh film makin ga layak buat ukuran kita sebagai orang timur.

OK, selamat menonton! jangan lupa, baca dulu review-nya di situs yang kusebut tadi!



Note: harusnya saya dibayar sama commonsensemedia karena udah promosiin gratis situsnya ya? hehe..moga2 pemilik situs itu baca blog ini :D .


Friday, September 5, 2014

Suatu Hari di Kebun Raya Bogor

Sesungguhnya ini bukan kali pertama saya berkunjung ke Kebun Raya Bogor (KRB). 
Meski sudah berkali2 kesini dan tiap hari saya selalu melewatinya, tapi rasa penasaran untuk 'ngubek' isi KRB tidak pernah pupus.
Biasanya saya ke KRB bareng keluarga, dan lokasi yang dituju selalu saja sama:  lapangan luas dekat Cafe DeDaunan dan kolam teratai. Lokasi ini merupakan lokasi favorit para pengunjung. Hampir semua pengunjung menuju kesini. Selain karena lapangannya paling luas, ideal buat area anak2 main bola, lari-lari dan juga gelar tiker, lokasi ini juga dekat ke Mesjid dan toilet.
Imbas dari tiap kali ke KRB ke lokasi yang sama, maka bila ada orang tanya apa saja yang menarik di KRB? saya tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Sungguh, saya bukan pemandu wisata yang baik. 

Berangkat dari rasa ingin tau apa saja tempat menarik di KRB (dan demi memberikan jawaban memuaskan manakala ada yang bertanya lagi nanti), maka Jumat di akhir bulan Agustus lalu, bersama dua rekan kantor, kami olahraga jalan kaki 'ngubek' KRB. O'iya, fyi setiap Jumat kantor kami membebaskan karyawannya untuk berolahraga sampai menjelang waktu jumatan tiba. Khusus Jumat, kantor kami memang tidak membuka pelayanan ke publik. Tentu saja, kebijakan 'Jumat bebas' itu direspon semua karyawan dengan antusias. Sebagian ada yang memilih main bulutangkis, sebagian wanita bersenam ria, dan yang lainnya ada yang memanfaatkan dengan olahraga jalan kaki sekaligus berwisata seperti saya.

Kami mulai start dari kantor pukul 07.30 WIB dengan berjalan kaki: menyusuri jembatan merah - jalan paledang - kantor batu hingga bertemu jalan besar Juanda dan Gerbang Utama KRB yang berada tepat di seberang lokasi wisata kuliner- Jalan Suryakencana. Udara sejuk pagi kota Bogor mengiringi langkah kaki kami. Ternyata jalan kaki berkilo-kilo jika dilakoni dengan gembira dan santai, asik juga.

Masuk KRB kami diharuskan bayar tiket Rp15 ribu per orang. Menurut rekan, harusnya kami bawa ID card kantor supaya gratis. Ah, mending bayar ajalah, daripada nanti malu karena udah nunjukin ID masih ditolak juga.

Komplek Makam Belanda. Begitu masuk KRB, tujuan pertama kami adalah lokasi Bunga Bangkai. Sayangnya, saat kami kesana bunga tidak sedang tumbuh. Akhirnya kami cuma lewat dan terus menuju makam Belanda. Letak makam ini di tengah-tengah rimbunnya pohon2 bambu. Udaranya sejuk dan lokasinya cukup gelap. Padahal itu pagi2. Kebayang kan kalo datang kesini menjelang senja, atau malam?  


www.pop282007.blogspot.com
2 kuncen makam
 :-)

www.pop282007.blogspot.com

Sesuai catatan di prasasti yang ada di depan komplek makam, makam ini usianya lebih tua dari KRB tahun 1817. Jumlah makamnya sih cuma sekitar 40-an. Tapi makamnya tertata lumayan apik dalam satu lokasi. Saat datang ke makam, kami bertemu satu keluarga berjumlah 5 orang yang sedang asik foto-foto depan makam. Rupanya mereka sudah lama disitu, karena tak lama kemudian mereka pun beranjak meninggalkan kami bertiga. 
Tidak menghabiskan waktu lama kami berada di sekitar makam. Setelah sekilas baca2 riwayat para penghuni makam yang tertera di batu nisan dan puas berfoto ria, maka kami pun buru2 berlalu dari situ. 

Petilasan Bung Karno. Dari makam Belanda, kami lalu mengambil rute yang jarang dilewati orang. Sengaja ambil rute ini, mumpung saya sedang bersama kawan perjalanan yang hobi blusukan! Tentunya kalo ke KRB bersama keluarga, saya engga akan melewati rute ini bukan? Rute yang kami ambil ini agak memutar dan jauh dari keramaian. Namun sisi positifnya, tanpa sengaja kami bisa menemukan Petilasan Bung Karno, sumur keramat, dan makam keramat Ratu Galuh Mangkualam (istri kedua Prabu Siliwangi) beserta makam Panglima Perang dan Patih Prabu Siliwangi.  

Petilasan Bung Karno berupa sebuah bangunan kecil terbuka yang menyerupai sebuah gazebo. Saat kami kesitu, tak ada pengunjung seorangpun.
Di tengah2 bangunan terlihat beberapa tangkai bunga sedap malam dan bekas dupa dalam sebuah vas bunga. Selebihnya, yang kami temukan adalah sisa-sisa puntung rokok dan bekas gelas air mineral yang teronggok begitu saja di lantai yang kotor. Kebiasaan buruk sebagian besar masyarakat kita: buang sampah sembarangan. Menyebalkan!


www.pop282007.blogspot.com

www.pop282007.blogspot.com

Sumur Keramat Sipatahunan. Dari Petilasan Bung Karno, kemudian kami mengambil jalan menurun ke arah Sungai CIliwung. Pas menuruni jalan, kami lihat di bawah sana diantara pohon-pohon rimbun, seorang pria mandi di sumur. Waduh,...ngapain tuh orang mandi di tengah2 hutan gini?
Rekan perjalananku bilang ..'itu pasti sumur keramat Sipatahunan'. Menurut info yang dia tau, air sumur itu memiliki banyak kelebihan. Selain bisa mensucikan jiwa, juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Maka tak heran saat2 tertentu, ada orang yang mandi atau minum dari sumur itu. Hanya saja karena letak sumur ini yang tersembunyi dan jauh dari keramaian, maka tak banyak orang yang tahu keberadaan sumur ini. Kalo tidak, mungkin setiap pengunjung KRB akan menumpang mandi disini. Apalagi yang habis olahraga jalan kaki kayak kami gini. Di lokasi ini, sorry no pic, mengingat pas mau ngambil foto eh..ada yg lagi mandi!

Komplek Makam Keramat Prabu Siliwangi. Tak berapa jauh dari sumur keramat, kami menemukan (lagi) komplek makam.  Konon menurut kuncen disitu, ini adalah makam Ratu Galuh Mangkualam (istri kedua Prabu Siliwangi) beserta makam Panglima Perang dan Patih Prabu Siliwangi.  Sebagaimana halnya suatu makam keramat, banyak orang yang datang ke makam ini dengan berbagai niat. Saat kami berkunjung ke makam itu, ada beberapa pengunjung makam. Kami sendiri tidak masuk ke dalam makam sang Ratu dan lebih memilih menengok dan mengambil foto dari luar pagar makam.


www.pop282007.blogspot.com

www.pop282007.blogspot.com

www.pop282007.blogspot.com

Taman Sudjana Kasan. Setelah berjalan cukup jauh dari makam keramat, kami tiba di sebuah taman cantik. Di taman ini terdapat patung laki-laki setengah badan, dengan tulisan 'Lebak Sudjana Kasan 18 Mei 1985'. Menurut info yang saya search di mbah google (setelah saya balik ke kantor) dijelaskan bahwa Bapak Sudjana Kasan adalah ahli Biologi Indonesia pertama yang mengelola KRB. Sebagai kenangan dan penghormatan atas kepemimpinannya, maka taman ini didedikasikan untuk beliau.
Dan ternyata menurut mbah google juga, di taman itu terdapat lambang burung Garuda yang bisa dilihat jelas di google map. Taman ini seringkali disebut taman bhineka. 

www.pop282007.blogspot.com

www.pop282007.blogspot

www.pop282007.blogspot.com

Di taman ini kami -lagi-lagi- tidak bertemu banyak orang. Cuma menemukan seorang turis wanita Jepang yang duduk selonjoran sambil nyanyi2. Sepertinya dia habis mandi. Entah mandi dimana. Jangan2 abis nyebur di kolam taman?

Keluar dari taman, kami kembali ke rute umum yang sekarang mulai banyak orang. 
Tepat di depan taman anggrek kami menemukan kran Air minum gratis. Wah..serasa bertemu oase di gurun, kedua rekan saya yang dari tadi ga bawa minum, langsung bergegas ke arah kran. Yah, sayang sekali tadi botol air mineral saya yang sudah kosong malah dibuang, padahal bisa buat isi ulang.


www.pop282007.blogspot.com

Selesai melepas dahaga, kami memutuskan untuk istirahat sejenak di rerumputan. Sementara salah seorang rekan saya sibuk berusaha memetik buah bisbul yang pohonnya tegak berdiri tepat diseberang tempat kami duduk. Sayangnya buah bisbul yang matang adanya di batang pohon paling atas. Hingga rekan saya cuma bisa memetik yang masih mentah. Saya sendiri baru tau ada buah bernama bisbul. Katanya sih enak dan manis, itu kata rekan saya yang udah sering mencoba. Buah ini termasuk buah langka. Seperti halnya buah kacapi, buah huni dan buah jigong alias sawo Belanda. Eh...dimana ya cari buah2an itu? dulu waktu saya kecil, gampang sekali menemukannya. Banyak yang jual. Kenapa sekarang jadi menghilang?

Hampir setengah hari kami menjelajahi KRB. Saya cukup puas. Selain berolahraga, juga sekalian berwisata. O'iya..sebelum lupa, lokasi2 menarik di KRB tadi posisinya ada di sayap kiri KRB, yang berarti berada di sekitar wilayah sempur dan jalan padjajaran (Bukan di sekitaran Pasar Bogor).

Sepanjang perjalanan pulang (kali ini memilih naik angkot karena udara sudah mulai panas terik), dalam pikiran saya mulai muncul ide2 akan kemana lagikah Jumat depan? Rasanya masih banyak obyek wisata bersejarah di Bogor yang belum saya jajaki. 

See you next friday!!




Tuesday, July 22, 2014

Lupakan Pilpres, Saatnya Bernostalgia


Awalnya saya cuma pengen tau apa bahasa Inggrisnya Kumis dan Janggut dalam bahasa Inggris. Maka seperti biasa, saya mengandalkan Mbah google untuk translate kata itu ke dalam English. Entah kenapa, pas saya ketik kata 'Janggut' di google search..eh yang keluar salah satunya malah "Cerita Pak Janggut dan Puteri Yang Manja".  Ya ampun..saya bagaikan di lempar ke masa kanak-kanak dulu. Saya inget betul cerita Pak Janggut itu. Waktu kecil saya berlangganan majalah Bobo, nah biasanya Bobo suka kasih bonus buku cerita tipis di tengah2nya. Salah satunya cerita Pak Janggut itu. Yang paling berkesan adalah cerita Pak Janggut dan Putri Yang Manja itu. Gara-gara baca cerita ini, saya sampe penasaran bagaimana rasanya acar mentimun seperti yang dikisahkan di cerita Pak Janggut (dalam cerita, Putri Paulin yang manja, yang tadinya benci mentimun, lama2 jadi doyan..dan saya jadi penasaran pengen makan acara mentimun juga).

image source: www.tokobukukomik.pasarberingharjo.com

Dari  Kisah Pak Janggut, saya pun jadi penasaran pengen cari buku2 lain yang dulu pernah saya koleksi. Diantaranya Kisah Lima Sekawan-nya Enid Blyton. Masih ingat, dulu setiap kali baca cerita ini, saya selalu membayangkan sebagai Anne, yang punya dua kakak laki-laki penyayang dan melindungi. Kisah Anne yang punya dua abang itu sepertinya sekarang terjadi pada Jasmine - putri saya, kebetulan Jasmine punya dua abang yang -meski sering mengganggunya- tapi basically sangat menyayanginya. 
Sebenarnya bukan suatu kebetulan saya bisa suka dengan cerita Lima Sekawan ini. Saya membacanya, karena kedua kakak perempuan saya suka baca dan mengkoleksinya. Setiap kali selesai baca buku, mereka langsung bermain peran dan pura2 berpetualang ala Lima Sekawan. Sebagai adik, tentu saya merasa terhibur dengan ulah mereka dan jadi ikut penasaran pengen baca bukunya. Pikir saya, pasti bukunya bagus dan seru sampe bikin kedua kakak saya rada gila..hahah.

image source: www.goodreads.com

Buku cerita lain yang bikin saya jatuh cinta yaitu Kisah Pipi Si Kaus Kaki Panjang. Cerita ini juga dulu saya dapat sebagai bonus di Majalah Bobo. Majalah Bobo memang selalu menyelipkan bonus, entah itu buku cerita tipis, poster, kartu bahkan kadang tempat pensil di tengah majalahnya. Meski pas ada bonus begitu harganya jadi agak melambung, tapi saya ga mikir....wong bukan saya yang beli!

image source: www.shantzcorner.wordpress.com

Satu lagi Novel berseri karya Enid Blyton yang dulu bikin saya penasaran dan suka mengkhayal jadi pengen ke Inggris: Kisah Si Badung. Novel ini menceritakan tentang seorang anak nakal, pemarah, tukang cari gara2, namanya : Elizabeth.  Namun sifatnya yang jelek itu bisa berubah, saat dia menjadi penghuni asrama sekolah. Setiap kali saya selesai membaca satu novelnya, slalu penasaran untuk membaca kisah selanjutnya. 
Bagian yang saya suka dari novel Si Badung adalah, saat di novel  diceritakan ada seorang anak baru yang pendiam, pemalu, kulit kusem -pokoknya siswa terbelakanglah- menjadi korban bully siswa2 lama,  Elizabeth pun tampil membela si anak dan Elizabeth juga berhasil merubah sikap anak tersebut. Kemudian pada novel berikutnya, dikisahkan si anak tadi pas masuk sekolah lagi berubah menjadi lebih ceria, percaya diri dan kulit sehat dengan pipi kemerah2an (biasanya satu novel diakhiri dengan berakhirnya semester belajar dan masuk musim liburan sekolah).

 
image source: www.inzubooks.blogspot.com

Enid Blyton selalu berhasil membangun sikap positif di setiap novelnya. Ini bukan cuma saya yang merasakan, tapi juga kedua kakak saya..(utamanya mereka terinspirasi dengan kisah Lima Sekawan). Sepertinya setiap anak yang baca novelnya menjadi tergerak untuk berbuat baik, rajin belajar, suka bermain dan berpetualang. Hebat banget ya? Jarang loh ..ada pengarang yang bisa mempengaruhi anak2 seperti itu. 
Cuma satu hal yang saya benci (tapi suka) dari novel2 karya Enid Blyton: setiap novelnya selalu membuat saya membaca dengan rasa lapar (pengen makan). Karena dalam setiap novelnya, Enid tidak pernah lupa menyisipkan cerita tentang makan-makan, menu perbekalan, menu pesta, dll. Dan itu digambarkan secara rinci, misalkan kayak gini: Anne menyiapkan bekal berupa 4 tumpuk roti isi daging panggang, selai strawberry, sosis, tidak lupa 2 botol susu dan 4 buah apel yang masih segar...walahhhh...secara saat itu saya masih anak2, apa yang saya baca pengennya menjadi nyata. Sementara, waktu itu keuangan keluarga saya masih 'ngos-ngosan'. Maka kalo saya merengek ke ibu minta dibelikan makanan seperti yang diceritakan di novel, saya bisa kena semprot dan ibu malah menyuruh saya berhenti baca novel yang "menyesatkan" itu..hahaha..

Sekarang entah kemana perginya koleksi buku-buku saya itu. Dulu, karena saking banyaknya koleksi buku cerita kami, kedua kakak saya sampe buka penyewaan buku cerita di teras rumah. Saat itu bisnis penyewaan buku sedang 'trend' di komplek kami. Jadi setiap anak yang punya buku cerita, bikin penyewaan. Terus kami suka saling menyewa. Harga sewanya, lumayan buat beli semangkuk bakso jaman dulu..Rp500 perak kalo ga salah. 
Dari situ, mulailah koleksi buku kami berkurang. Karena ternyata banyak juga teman kami yang 'nakal'. Menyewa sekaligus berniat menguasai. Kalo ditagih..selalu bilang 'sudah dikembalikan' atau 'yah...hilang'. Sayangnya dulu kedua kakakku belum terpikir uang jaminan. Apalagi terpikir untuk menyita harta mereka yang berupa buku juga. Semua didasarkan atas asas pertemanan: percaya untuk tidak percaya.

Dan sekarang saya mendadak pengen baca semua buku itu lagi. Dimana saya bisa menemukannya ya? Beberapa toko buku online ada yang menjual, tapi versi baru. Sementara saya lebih suka cover versi jadul.

Friday, June 6, 2014

Sang Jenderal dan Jenderal Kancil

www.thejakartapost.com 

www.kompasiana.com
Gegap gempita pemilihan presiden tinggal 1 bulan lagi. Dimana-mana yang dibicarakan orang2 adalah capres ini capres itu. Bahkan kemarin pas pulang kantor, sopir angkotku begitu seru membicarakan salah satu capres dengan penumpang sebelahnya. Diskusi mereka lumayan serius dan sepertinya sang sopir benar2 mengikuti perkembangan sang capres; mulai dari masa lalu sang capres, hubungannya dengan mantan presiden yang terdahulu, dan mengenai perjanjian yang dikhianati. Luar biasa!
Saya cuma ijin nyimak. Obrolan mereka sangat mengasyikan. Sampai-sampai perjalanan dari kantor sampe depan komplek rumah yang biasanya membosankan -karena biasanya cuma saya satu-satunya penumpang yang duduk di belakang- kali ini terasa menyenangkan.

Capres tahun ini cuma 2. Maka tak heran pendukung terpecah menjadi 2 kubu. Kalo bukan yang ini, pasti yang itu. Kecuali yang apatis tentunya. Perkara siapa milih siapa memang terkait dengan selera, dan selera masing-masing orang berbeda, tidak bisa dipaksakan. Tak terkecuali di keluarga besar kami. Contoh kecil antara saya dan suami. Meski kami disatukan dalam cinta ..tapi kami berbeda selera untuk pilihan presiden. Ini namanya keanekaragaman.

Suami adalah penggemar berat Jokowi. Dia jatuh cinta sejak Jokowi terlihat serius menata Jakarta: gaya blusukannya dan sikap sederhananya. Jokowi itu bagaikan si kancil yang cerdik dan lincah. Maka saat Jokowi dicalonkan jadi Presiden, dia sangat setuju. Katanya, sudah lama kita tidak punya pemimpin yang merakyat dan sederhana. Terlihat begitu besar harapannya kepada Jokowi (moga2 saja kalo kelak Jokowi terpilih jadi presiden, tidak akan mengecewakannya..hehe). Saya juga sebenarnya suka cara kerja Pak Jokowi. Tapi saya lebih suka kalo Pak Jokowi fokus dulu menata Jakarta yang saat ini masih amburadul. Karena saya ingin Jakarta jadi kota yang asri dan santun seperti Solo.

Sementara itu, saya lebih memilih Prabowo untuk presiden. Tentu bukan karena saya anak militer jadi milih dia (Lagipula saya ga diundang dalam acara pertemuan Prabowo dengan putra putri TNI/Polri kemarin). Saya rasa negara ini masih butuh presiden yang tegas, berani, pantang dilecehkan negara asing. Bukan presiden yang gampang berkata 'yes sir', 'yes mam'. 
Dulu harapan ini saya sematkan ke presiden kita sekarang. Saya pikir karena beliau dari militer, pasti ada sikap2 seperti itu. Ternyata? silahkan menilai sendiri. Moga2 saja pilihan saya kali ini tidak salah.

Banyak yang bingung, kalo misalnya Prabowo jadi presiden siapa ibu negaranya? ya tidak usah ada ibu negara! Bukankah selama ini ibu negara (di negara lain, bukan negara sini) malah suka merepotkan? Atau kalo masih perlu ibu negara, kan masih ada ibu wakil presiden? gitu aja kok repot. Terus ada yang lebih ngebingungin lagi: Prabowo ngurus keluarganya aja ga bisa, apalagi ngurus negara? Kalo menurutku justru begini: seorang bapak yang perhatian dengan keluarga, maka keluarga adalah yang utama. Karena Prabowo bukan salah satu bapak itu, maka dia akan lebih fokus mengurus negara. Hehe...silahkan anda protes  :D

Kalo berdebat siapa capres yang paling bagus tentu ga akan ada habisnya. Kalo diteruskan berdebat malah bikin perang urat saraf. Masing-masing orang punya alasan sendiri untuk memilih. Seperti yang saya sebutkan di atas: ini masalah selera, tidak bisa dipaksa. Ingat saja: bagiku pilihanku, bagimu pilihanmu. Jadi ga heran kalo alasan2 saya di atas kenapa memilih Prabowo, tidak menggoyahkan suami untuk tetap cinta Jokowi. Suami bilang, negara ini tidak perlu Sang Jenderal. the Real jenderal. Cukup dipimpin oleh Jokowi: jenderal kancil yang cerdik dan lincah, yang merakyat dan dicintai rakyat. Ya, sudahlah, kataku; asal cintamu pada Jokowi tidak melebihi cintamu padaku saja. Hihihi...



catatan: 
Ya, ampun...kenapa saya jadi masuk ranah politik? saya bukan tim sukses salah satu capres loh..dan sama sekali tidak dibayar bikin artikel ini. Ini bukan kampanye, tapi lebih ke uneg-uneg ibu RT. No offense!


Monday, June 2, 2014

WELCOME JUNE !!

image source: June Birth Flower

Saya selalu antusias memasuki Bulan Juni. Bagi saya bulan Juni terasa begitu istimewa. Selain karena bulan ini milikku, juga karena di bulan ini banyak peristiwa bersejarah.  Engga percaya? nih, tgl 1 Juni dikenal sebagai hari lahir Pancasila, tgl 2 Juni hari lahir tokoh penting di keluargaku **saya** , tgl 3 Juni hari jadi kota tercinta 'Bogor', tgl 6 Juni hari lahir Bung Karno, tgl 8 Juni hari lahirnya Pak Harto. Bahkan Jokowi, salah satu capres kita lahir bulan Juni, tepatnya 21 Juni! Kalo ditelusuri, masih banyak tokoh dan orang terkenal yang lahir bulan cantik ini. Silahkan pake google search  dengan kata kunci 'Tokoh yang lahir bulan Juni' (tentu saja tidak termasuk nama saya disitu).

Karena banyak tokoh dan hari penting lain yang dirayakan pada bulan Juni, maka meskipun tahun ini - bulan Juni pertamaku di kantor Bogor - tidak ada yang mengucapkan selamat dan nagih traktiran makan2 dari orang2 kantor, tapi bagiku bulan Juni tetap terasa meriah. Bagaimana tidak? gegap gempita menyambut bulan Juni sudah dimulai dari pertengahan bulan Mei. Acara dan lomba2 menyambut bulan Juni sudah berlangsung seminggu sebelum bulan Juni datang di kotaku. Yah...dalam rangka menyambut ulang tahun Kota Bogor. Makasih ya..buat semua yang udah menyambut bulan Juni dengan meriah? hehe...

Terkait dengan bulan Juni, tadi saya iseng baca sebuah artikel di portal berita Detik yang membahas hasil penelitian terhadap orang2 yang lahir di bulan Juni-Juli. Dalam artikel itu disebutkan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari University of China dan University of British Columbia, Canada, orang-orang yang lahir di bulan Juni-Juli lebih jarang menjadi CEO atau bos perusahaan di kemudian hari. Fenomena ini disebabkan oleh semester akademik dan hal-hal yang terkait dengan itu.  Ingin tau lebih lengkap mengenai penelitian ini? silahkan kunjungi portal tadi. Saya sih engga begitu yakin dengan hasil penelitian tersebut. Apalagi bila ternyata salah satu yang jadi peneliti adalah Cak Lontong. Kesuksesan seseorang tidak didasarkan atas bulan kelahiran. Banyak faktor lain yang bisa menjadikan seseorang sukses. Berusaha, berdoa dan rejeki! Itu yang utama. Lagipula pada kenyataannya banyak juga tokoh penting yang lahir bulan Juni bisa menjadi pemimpin.

Tapi kalo diperhatikan baik2, sepertinya hasil penelitian tadi justru membatasi bahwa orang-orang yang lahir di bulan Juni-Juli lebih jarang menjadi CEO atau bos perusahaan di kemudian hari. Jadi, orang yang lahir bulan Juni, mungkin saja tidak atau jarang menjadi bos/CEO di perusahaan, tapi dia bisa menjadi bos di rumah tangga, bos di organisasi politik bahkan bos/pemimpin negara. Cakupannya tentu lebih luas dibandingkan hanya menjadi CEO/bos di perusahaan bukan? **menghibur diri**.   So....jangan takut lahir di bulan Juni, karena Juni tetap menjadi bulan cantik bagi saya. Welcome June!


Friday, May 2, 2014

Sepanjang Jalan Kenangan



Pernahkah anda melewati suatu jalan, tempat, bangunan,  dimana - dulu- di jalan/tempat/bangunan itu anda memiliki sebuah kenangan indah bersama keluarga, teman, saudara, atau pasangan anda? lalu saat sekarang anda melewatinya kembali bagaimana perasaan anda? pasti memori anda bermunculan. 
Dan minggu lalu, saat saya berjalan sendirian menyusuri Jembatan Merah Bogor. Saya serasa dilempar ke masa silam, tepatnya ketika saya masih berumur 8 tahun dan masa SMA. Saya takjub, karena pertokoan di Jembatan Merah masih seperti dulu. Ada toko sepatu Sri Sura yang berada tepat disamping gang Tirta - gang tempat Alm. Kakak saya dan suaminya nge-kost saat mereka baru jadi pengantin baru. Kemudian ada toko buku Naga Mulia - toko langganan saya dan teman2 SMA- toko ini favorit kami karena satu2nya toko buku yang lumayan lengkap saat itu. Ada juga toko Irama Nusantara, ini toko elektronik dan dulu sekaligus sebagai toko persewaan kaset film. Alm. Kakak dulu suka sewa kaset video serial silat Hongkong, seperti Kembalinya Pemanah Burung Rajawali (Return of the Condor Heroes), Golok Pembunuh Naga (To Liong To), dan banyak lagi.
Saya ingat, kakak saya kalo udah pinjam kaset2 itu (kasetnya Betamax - tebel kayak roti bantet, beda dengan sekarang yg vcd/dvd tipis2) sampe 5-10 biji sekaligus setiap minggunya. Mungkin karena saking penasarannya dengan akhir kisah cinta si Yoko dan Bibi Liong. Dan percaya atau tidak, gara2 kecanduan nonton serial silat Hongkong ini, maka nilai NEM (UN- jaman sekarang) sekolah dasar saya jeblok! Pas menjelang ujian, saya bukan sibuk belajar, tapi malah ngintip2 dari jendela kamar ikut nonton film. Yoko dan Bibi Liong memang bikin candu.

jembatan merah sekarang
Jembatan Merah Bogor masih sama seperti dulu. Toko-tokonya masih toko jadul. Saat saya iseng masuk ke toko arloji disana, pemilik toko masih si koh dan cie yang dulu, tapi udah tuaaa bener. Panjang umur mereka.

Saya terus menyusuri pertokoan jembatan merah. Lalu, saat saya mulai berbelok ke arah jalan Mantarena, hampir melewati Toko kue Dirgahayu.. mendadak saya ingat: Dulu masa SMA - di belokan ini- saya yang baru pulang beli buku dari toko Naga Mulia, tiba2 berpapasan dengan kecengan saya (sama2 bersekolah di tempat yang sama). Saat itu saya dan dia cuma saling lempar senyum malu2 garong. Senyum yang terus menerus berlanjut tiap kali kami bertemu sampai lulus sekolah. Belum pernah ngomong sekalipun. Dasar ABG!


Monday, April 28, 2014

Pendidikan Agama Sejak Dini


Pagi yang cerah. Saat naik angkutan umum tadi, kulalui sebuah sekolah swasta katolik terkenal di kota ini. Seperti biasa, laju kendaraan slalu macet melalui sekolah itu, karena banyaknya mobil jemputan anak yang parkir. Saat macet begitu, saya lihat di pinggir jalan seorang ibu cantik berjilbab menggendong putrinya yang lucu bersiap mau menyeberang. Sebetulnya itu pemandangan biasa, tapi bagi saya menjadi tidak biasa saat kulihat anak itu menggunakan seragam TK khas sekolah swasta tersebut. Saya memandang ibu itu dengan heran. 

Saya jadi ingat diskusi dengan rekan kantor saya dulu. Rupanya ibu itu adalah salah satu contoh yang dimaksud rekan saya dengan istilah 'orang tua yang mengorbankan anaknya'. Saat kami mendiskusikan sekolah terbaik untuk anak2, rekan saya bilang 'meski saya banyak duit, saya gak akan sudi menyekolahkan anak ke sekolah swasta kristen meski sekolahan itu bagus. Lebih baik saya sekolahkan anak saya di sekolah umum yang jelek saja'. Saya bilang..wah, pendidikan itu penting loh, kalo anak kita sekolah di swasta kristen, kan kita bisa menyiasatinya dengan memberikan pendidikan agama di rumah. 
Tapi sekarang, begitu saya melihat ibu dan anak itu, rasanya saya mendadak sepakat dengan rekan saya. Kenapa ya, si ibu itu mau menyekolahkan putri cantiknya di sekolah itu? memang tidak ada sekolah swasta muslim yang bagus? Saya mencoba positif thinking, ah mungkin wanita itu pengasuhnya (meski ga yakin kalo melihat dari penampilan dan wajahnya yang mirip dengan si anak), oh..mungkin ibu itu menikah dengan suami yang non muslim, maka si ayah yang memilih sekolah sang anak'. Demikian terus, saya berusaha berpikiran positif . Tapi tak berhasil.

Kenapa saya mendadak jadi ibu-ibu rewel seperti ini? Karena saya sudah punya anak, dan belajar dari putri kecil saya -Jasmine- yang saat ini suka copy cat segala hal yang dia lihat, dia dengar dan dia rasakan, maka pendidikan agama itu memang harus dari usia dini. Menyekolahkan anak kita yang berusia dini ke sekolah non muslim sama saja menyuruh dia untuk mempelajari keyakinan di luar islam.
Ketidaksetujuan saya terhadap anak muslim bersekolah di sekolah non muslim juga berlaku sebaliknya. Saya punya adik ipar yang memiliki tempat penitipan balita muslim di sebuah perumahan baru. Di perumahan tersebut cuma itu satu-satunya tempat penitipan. Perumahan itu banyak berisi pasangan muda  yang memiliki balita, maka tak heran jika tempat penitipan ipar saya laris manis. Beberapa kali ipar saya menolak sepasang suami istri yang berniat menitipkan anaknya kesitu. Karena apa? karena suami istri itu non muslim. Maaf bukan rasis. Tapi dasar penolakan ipar saya sungguh masuk akal. 
Ipar saya menjelaskan dengan sopan pada mereka begini 'Maaf Pak/Bu, apakah Ibu dan Bapak yakin mau menitipkan anaknya disini? ini tempat penitipan muslim. Kami mendidik anak2 itu secara muslim. Mereka kami ajari berdoa, sholat, mengaji dsb. Apakah Bapak dan Ibu mau, anak Bapak/Ibu kami didik dengan cara yang tidak sesuai dengan keyakinannya? Menurut kami, lebih tepat bila anak Bapak/Ibu dititipkan di tempat penitipan umum atau khusus yang non muslim. Silahkan pikirkan kembali baik2'. 
Sungguh tepat sekali jawaban ipar saya. Tak seharusnya kita sebagai pengelola menerima begitu saja anak dari agama lain. Kalaupun anak yang berbeda agama itu kita terima, apakah nanti tidak akan membingungkan anak itu? saat temen2nya yang  muslim diajari sholat, berdoa, mengaji, sementara dia hanya diam dan memperhatikan teman2nya dengan heran dan seribu pertanyaan pastinya. 

Jangan pernah main-main dengan pendidikan agama sejak dini. Pendidikan itu yang kelak akan membentuk dia menjadi muslim yang baik, muslim rata-rata, atau muslim KTP. Memang sih saat ini banyak kasus seseorang yang berpredikat 'kyai' atau 'ustadz' tapi berprilaku bak penjahat kelas kakap. But that is personal. Tidak ada yang salah dengan agamanya. Agama selalu mengajarkan yang benar. Prilaku seseorang juga dipengaruhi lingkungan. Apakah jika seorang ustad berbuat kejelekan, maka islam itu jelek? atau jika seorang pendeta berbuat kejahatan, maka kristen itu jahat? Tidak perlu menggunakan majas sinekdoke totum pro parte untuk urusan agama.

Sunday, April 13, 2014

Swarna Bhumi : Istana yang ditinggalkan

Sebulan sejak kepindahanku ke kantor baru, baru kali ini saya diajak rekan kantor untuk kunjungan dinas ke suatu lokasi di sekitar Bogor. Pagi itu kami berangkat menuju ke suatu tempat-entah dimana- saya belum tau, karena saya sendiri tadi diajak dadakan. Sepanjang jalan, saya cuma diam membisu, selain karena sebenarnya ga minat pergi, juga karena orang-orang yang duduk di kiri kananku tak dikenal. Mereka sibuk mengobrol, sementara saya sibuk mencari cara bagaimana bisa kabur di tengah2 acara kunjungan. 

Waktu merambat, saat kurasa mobil yang membawa kami menyusuri Jalan Ahmad Yani Bogor dan lalu berbelok ke suatu bangunan yang -saya kenal baik- rasa aras-arasan berubah menjadi antusias. Mata saya mendadak segar dan saya langsung nyerocos 'Serius Bu, kita kesini? saya dari dulu pengennn banget bisa masuk kesini. Ya, ampun..saya seneng banget Bu, untung tadi diajak!' Ibu dan bapak2 sampingku memandangku dengan heran.

Gerbang utama yang kusam

Sungguh, saya kenal betul bangunan yang akan kami masuki ini. Bertahun-tahun saya selalu menatapnya tiap kali melewatinya. Saya masih ingat, saat remaja dulu tiap berangkat sekolah saya selalu melewati bangunan yang bergerbang mewah ini. Kubayangkan menyelusup melalui gerbang utama, lalu berjalan perlahan melewati deretan pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar rindang menuju istana yang indah disana. Bangunan ini -Swarna Bhumi- akhirnya saya bisa masuk kesini. Rupanya Tuhan telah memeluk salah satu mimpi masa laluku.

Sejak dulu, masyarakat mengenal bangunan ini sebagai istana atau tempat peristirahatan Alm. Sri Sultan Hamengkubuwono IX beserta istri terakhirnya KRAy Norma Nindyokirono. Dari luar, orang-orang yang lewat hanya bisa melihat gerbang besar bercat putih. Lalu ada sebuah plang besar bertuliskan nama bangunan dan alamat. Tulisan 'Swarna Bhumi" itu yang dulu bikin saya penasaran. Saya selalu membayangkan 'pasti nun jauh di ujung jalan setelah gerbang masuk, terpapar sebuah istana menyerupai keraton jogya'. Sri Sultan dan istri pasti betah tinggal disana, menikmati udara sejuk kota Bogor dengan rasa damai dan tentram.

Menuju pendopo

Dan sekarang, saya berdiri menatap bangunan dan tanah yang luas ini dengan nanar. Kulewati semak belukar, pohon-pohon singkong tak terawat. Tidak ada lagi deretan pohon palem rindang seperti bayanganku dulu. Istana indah itu kini sebagian telah runtuh, kotor, lembab dan gelap. Tidak layak dihuni oleh putri bangsawan, malah lebih cocok didiami oleh mahluk astral - begitu istilah Tukul. Di atas lahan seluas + 14.000 meter ini berdiri beberapa bangunan. Bangunan utama yang besar- tentu ini tempat Sultan dan istrinya- berada di paling ujung jalan. Dari gerbang utama menuju bangunan utama dipenuhi pohon-pohon.

Saya jelajahi setiap sudut bangunan sendirian. Tidak ada rasa takut, yang ada hanya penasaran.
Ada nuansa romantis menyeruak disini. Kubayangkan saat istana itu masih utuh dan bagus. Sultan dan istrinya duduk-duduk di sebuah beranda, tepat dibelakang kamar tidurnya. Taman dan jalan setapak mengelilingi bangunan ini. Mungkin dulu Sri Sultan sering berolahraga jalan kaki, sementara sang istri menyediakan sarapan pagi.


Dalam bangunan utama ini banyak kamar2. Saya menebak2 mana ruang tidur Sultan dan istrinya. Pastilah ruangan yang paling besar dengan kamar mandi berukuran cukup luas. Sekilas saya memasuki kamar mandinya, rasa panas dingin mendadak menyerang. Ini pasti sugesti. Saya pun urung masuk lebih dalam.

Atap pendopo yang masih kokoh

Dari sekian banyak bangunan, hanya satu bangunan yang masih utuh. Sebuah pendopo. Pilar-pilarnya terbuat dari kayu jati asli. Kokoh. Atap pendopo terdapat ukiran dan lukisan kuda. Indah sekali. Seorang Bapak rekan seperjalananku yang mewakili sebuah instansi, tiba2 berdiri di sampingku. Melihatku yang sedang mengagumi atap pendopo ini membuatnya ikut berkomentar. Dia berjanji tidak akan membongkar pendopo ini, meski kelak di atas lahan ini akan dibangun sebuah kantor pemerintahan. Sedikit kuceritakan, lahan luas dan bangunan ini sekarang menjadi milik negara, bukan lagi milik Alm. Sri Sultan dan istrinya. Saya tidak akan menceritakan kenapa menjadi demikian. Saya cuma ingin bercerita tentang sisa-sisa keindahan istana ini dan memahami sedikit nuansa batin mantan penghuninya.

Sejak kepergian Sri Sultan, sepertinya Ibu Norma tidak lagi berniat tinggal disini. Mungkin istana ini terlalu banyak meninggalkan kenangan buatnya. Saya tidak tau, apakah Ibu Norma pernah berkunjung lagi kemari dan melihat kondisi istana yang kini menyedihkan. Bila ya, dan jika saya jadi dia, maka saya akan menangis. Kenangan indah di Swarna Bhumi dengan Sri Sultan tidak akan pernah terlupakan.



catatan:  Sejak kunjungan ke Swarna Bhumi, saya penasaran dengan kehidupan Sri Sultan dan istrinya. Kembali ke kantor saya langsung google searching. Banyak cerita tentang Sri Sultan. Dari sekian banyak, ada satu yang menarik, seperti yang diceritakan di blog Agnes Davonar.